SAMARINDA –

BORNEONEWS, Sangatta – Di sebuah kawasan di Jalan Guru Besar, Sangatta, rombongan berhenti di makam Datuk Sampai bin Lohom. Doa dipanjatkan, kepala ditundukkan, dan ingatan masyarakat seperti dibawa kembali ke masa ketika adat masih menjadi bagian erat dari keseharian.

Datuk Sampai bin Lohom bukan sekadar nama di batu nisan. Ia tercatat pernah menjadi kepala adat pada 1855–1901, salah satu sosok yang menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat di wilayah yang kini dikenal sebagai Kutai Timur.

Ziarah itu menjadi pembuka rangkaian Erau Adat Pelas Benua 2026, Jumat, 9 Oktober 2026.

Hadir dalam kegiatan tersebut Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin, unsur pemerintah daerah, pemangku adat dan masyarakat.

Namun, yang ingin dihidupkan melalui Erau bukan semata kenangan tentang masa lalu.

Setelah ziarah dan doa bersama, suasana bergeser ke Rumah Lamin Adat di Jalan Ringroad, Sangatta Selatan.

Di tempat itu, bunyi gasing, tarikan ketapel hingga aktivitas menyumpit kembali hadir.

Empat permainan tradisional dimainkan, yakni menyumpit, begasing, belogo dan ketapel.

Permainan-permainan tersebut pernah menjadi bagian akrab dari kehidupan masyarakat, tetapi kini semakin jarang terlihat di tengah perubahan gaya hidup dan perkembangan teknologi.

Erau Adat Pelas Benua kemudian menjadi ruang untuk mempertemukan kembali generasi muda dengan tradisi itu.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman mengatakan adat dan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi dapat menjadi pegangan dalam pembangunan daerah.

“Adat dan budaya merupakan salah satu modal utama dalam pembangunan. Kalau kita tidak mengenal adat dan budaya, kita mungkin akan kesulitan melihat arah yang harus dilakukan,” katanya.

Bagi pemerintah daerah dan pemangku adat, menjaga tradisi berarti memastikan nilai-nilai lama tetap memiliki tempat di kehidupan hari ini.

Permainan tradisional, misalnya, bukan hanya soal perlombaan.

Di balik menyumpit terdapat keterampilan dan ketepatan. Dalam begasing dan belogo tersimpan kebiasaan berkumpul dan berinteraksi. Sementara ketapel mengingatkan pada permainan sederhana yang dahulu tumbuh bersama kehidupan masyarakat.

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kutai Timur Basuki Isnawan mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi penting agar permainan tradisional tidak hanya muncul saat perayaan adat.

Generasi muda diharapkan mengenal, memainkan dan meneruskannya sebagai bagian dari identitas daerah.

Karena jika hanya ditampilkan sesekali, tradisi berisiko perlahan berubah menjadi tontonan, bukan lagi bagian dari kehidupan.

Erau Adat Pelas Benua 2026 mencoba menjaga jarak itu agar tidak semakin lebar.

Di satu sisi, masyarakat diajak mengenang perjalanan leluhur melalui ziarah. Di sisi lain, tradisi dibawa kembali ke ruang yang lebih dekat dengan generasi sekarang melalui permainan dan kegiatan bersama.

Hubungan antara Kesultanan Kutai Kartanegara, pemerintah daerah, pemangku adat dan masyarakat juga kembali dipertemukan dalam satu rangkaian.

Harapannya, pelestarian budaya tidak berhenti pada seremoni.

Sebab adat akan tetap hidup bukan hanya ketika panggung didirikan atau acara digelar, tetapi ketika generasi berikutnya masih mengenal nama leluhur, memahami nilai tradisi, dan tahu bagaimana memainkan gasing yang diwariskan kepada mereka.

ANTARA