PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang berlangsung dalam waktu cukup panjang berisiko membuat siswa jenuh dan kehilangan fokus belajar. 

Kondisi ini menjadi perhatian Anggota Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Faridawaty Darland Atjeh, yang meminta guru dan kepala sekolah tidak terpaku pada metode pembelajaran yang monoton.

Faridawaty menilai, kejenuhan siswa bukan persoalan sepele karena dapat berdampak langsung pada partisipasi dan pemahaman materi. Ketika anak tidak lagi mengikuti pembelajaran secara optimal, tujuan pendidikan berpotensi tidak tercapai meskipun kegiatan belajar tetap berjalan.

“Kami mendorong guru dan kepala sekolah untuk menghadirkan metode pembelajaran yang lebih menarik,” ujarnya, Minggu, 11 Oktober 2026.

Menurutnya, pelaksanaan PJJ tidak cukup hanya dengan memberikan materi dan tugas kepada siswa. Sekolah perlu memastikan metode yang digunakan mampu menjaga keterlibatan peserta didik, sehingga pembelajaran tidak sekadar menjadi rutinitas yang harus diselesaikan.

Guru juga dituntut lebih kreatif dalam menyampaikan materi, misalnya melalui variasi aktivitas belajar dan interaksi yang mendorong siswa tetap aktif. Pendekatan tersebut perlu disesuaikan dengan usia, kemampuan, serta kondisi siswa selama belajar dari rumah.

Faridawaty menilai, beban tugas yang berlebihan tanpa diimbangi metode pengajaran yang menarik justru dapat memperparah kejenuhan. Karena itu, guru perlu mempertimbangkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas dan memastikan materi yang diberikan tetap dapat dipahami.

"Selain peran guru, kepala sekolah juga perlu melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan PJJ. Evaluasi tidak hanya berfokus pada kehadiran atau penyelesaian tugas, tetapi juga pada efektivitas pembelajaran dan kendala yang dihadapi siswa," tambahnya.

Komunikasi dengan orang tua turut diperlukan untuk mengetahui apakah anak mengalami kesulitan mengikuti pelajaran, terkendala fasilitas, atau membutuhkan pendampingan tambahan. Masukan tersebut dapat menjadi dasar bagi sekolah untuk menyesuaikan strategi pembelajaran.

Faridawaty berharap sekolah tidak menjadikan PJJ sekadar upaya menjaga kegiatan belajar tetap berlangsung. Menurutnya, kualitas pembelajaran harus menjadi perhatian utama agar siswa tetap memperoleh pendidikan yang efektif meski tidak belajar secara tatap muka. (MARINI/H)