BORNEONEWS, Nanga Bulik – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Lamandau mulai memukul sektor pariwisata. Desa Wisata Riam Tinggi yang mengandalkan keindahan alam dan hutan tropis kini terdampak setelah sejumlah kunjungan wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara, dibatalkan.
Pengelola wisata Desa Riam Tinggi, Gogo, mengatakan pembatalan kunjungan terjadi sepanjang bulan ini. Kondisi kabut asap tidak hanya mengganggu perjalanan, tetapi juga membuat wisatawan mempertimbangkan kembali rencana berkunjung ke kawasan tersebut.
“Kabut asap ini sangat berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan, baik domestik maupun asing,” ujar Gogo, Selasa, 13 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, salah satu kendala yang dihadapi wisatawan adalah terganggunya penerbangan akibat pembatalan sejumlah jadwal pesawat. Selain itu, kondisi udara yang dipenuhi asap menimbulkan kekhawatiran bagi wisatawan yang hendak melakukan aktivitas di luar ruangan, terutama mereka yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.
“Betul, ada yang batal karena pesawat, ada juga tamu yang punya riwayat penyakit asma sehingga tidak berani datang,” jelasnya.
Menurut Gogo, rombongan wisatawan terakhir berkunjung ke Riam Tinggi pada awal September lalu. Setelah itu, sejumlah kunjungan yang telah direncanakan tidak terlaksana, termasuk pemesanan untuk Oktober.
“Termasuk bulan Oktober ini, ada lima trip yang sudah booking, tetapi dibatalkan semua,” ungkapnya.
Pembatalan tersebut berdampak pada pengelola wisata dan masyarakat setempat yang menggantungkan sebagian pendapatan dari aktivitas pariwisata. Berkurangnya kunjungan wisatawan membuat potensi pemasukan warga ikut terpengaruh, terutama ketika kondisi kabut asap belum memungkinkan wisata alam dinikmati secara optimal.
Gogo mengatakan, daya tarik utama Desa Wisata Riam Tinggi terletak pada keindahan hutan tropis, suasana alam yang asri, serta wisata budaya yang ditawarkan kepada pengunjung. Namun, kebakaran hutan di sekitar wilayah Lamandau dan kabut asap yang mencapai kawasan wisata menjadi tantangan bagi keberlangsungan usaha pariwisata setempat.
“Padahal yang kami jual adalah wisata alam dan budaya yang mengandalkan keindahan hutan tropis. Namun, banyak hutan di sekitar yang terbakar dan kabut asapnya sampai ke sini. Tentu saja ini berpengaruh terhadap pendapatan warga di desa wisata,” tuturnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan dan kesehatan, tetapi juga merembet ke sektor ekonomi masyarakat, termasuk usaha wisata yang bergantung pada kelestarian alam. (NATALIA KRISTIN/j)









