PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Palangka Raya (UPR) menggelar The 2nd Palangka Raya International Conference on Education (PRICE) 2026 pada Rabu, 14 Oktober 2026. Konferensi internasional ini mengangkat tema Transforming Impactful Higher Education in the Digital Era for Global Society.

Kegiatan yang berlangsung pukul 07.00 hingga 17.00 WIB tersebut diselenggarakan secara daring dan luring di Universitas Palangka Raya.

"PRICE 2026 menjadi wadah bagi akademisi, peneliti, dan praktisi pendidikan untuk mempresentasikan hasil penelitian sekaligus bertukar gagasan mengenai transformasi pendidikan tinggi di era digital," kata Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. Natalina Asi.

Konferensi ini menghadirkan sejumlah pembicara utama dari Australia, Filipina, dan Turki. Mereka adalah Prof. Robyn Gillies dari The University of Queensland, Australia; Prof. Teofilo B. Damoco dari Union Christian College, Filipina; serta Prof. Mustafa Çakir dari Marmara University, Turki.

Selain pembicara utama, kegiatan tersebut juga menghadirkan sejumlah akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia sebagai pembicara undangan. Di antaranya Safitri Y. Ratri, S.Si., M.Pd., M.Ed., Ph.D. dari Universitas Negeri Yogyakarta; Judyanto Sirait, S.Si., M.Ed., Ph.D. dari Universitas Tanjungpura; serta Dr. Natalina Asi, M.A. dari Universitas Palangka Raya.

Pembicara undangan lainnya yakni Dr. Aip Badrujaman, M.Pd. dari Universitas Negeri Jakarta dan Dr. Fortunasari, S.S., M.A. dari Universitas Jambi. Kehadiran para akademisi tersebut diharapkan memperkaya diskusi mengenai tantangan dan peluang pengembangan pendidikan di tengah perubahan teknologi dan kebutuhan masyarakat global.

"Sejumlah bidang menjadi fokus pembahasan konferensi, mulai dari kebijakan pendidikan dan inovasi kurikulum, model serta strategi pembelajaran inovatif, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dan teknologi digital dalam pendidikan," katanya lagi.

Selain itu, konferensi juga mencakup pendidikan STEM yang meliputi sains, teknologi, rekayasa, dan matematika.

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah dimensi sosial, politik, ekonomi, psikologis, dan hukum dalam pendidikan, pengembangan moral dan karakter, pendidikan inklusif dan berkeadilan, promosi pendidikan jasmani dan kesehatan, serta bidang linguistik, seni, dan pendidikan budaya.

"Melalui agenda tersebut, PRICE 2026 membuka kesempatan bagi para peneliti untuk mempresentasikan dan memublikasikan hasil penelitian melalui prosiding internasional maupun jurnal terindeks SINTA 2 hingga SINTA 5," tuturnya.

Panitia juga menyediakan fasilitas pembebasan biaya publikasi bagi makalah terbaik dengan ketentuan tertentu, termasuk hasil penilaian sejawat dan penerimaan resmi oleh jurnal yang dituju.

Pelaksanaan konferensi ini menjadi salah satu ruang akademik untuk mempertemukan pemikiran dari berbagai negara dan perguruan tinggi dalam merespons perkembangan pendidikan di era digital.

"Pertukaran hasil penelitian dan pengalaman akademik diharapkan dapat memperkuat pengembangan inovasi pembelajaran serta meningkatkan kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat global," bener Natalina. (TESTI PRISCILLA/Y)