KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Kisah pelestarian budaya Dayak melalui kecapi dan Karungut mengantarkan Nanda Widya Putri, siswi kelas XII-E SMAN 2 Kuala Kapuas, meraih juara ketiga cabang jurnalistik Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2026. Karya tersebut mengangkat keterlibatan 1.000 pelajar dari 17 kecamatan di Kabupaten Kapuas dalam menjaga warisan budaya daerah.

Karya berjudul Ketika Nada Menyatukan Warisan dalam Langkah Seribu Pelajar itu mengisahkan kegiatan yang berlangsung pada 8 Desember 2025. Dalam kegiatan tersebut, para pelajar memainkan kecapi dan melantunkan Karungut, sastra lisan Dayak Ngaju, sebagai bagian dari upaya pemecahan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).

Alih-alih sekadar melaporkan kegiatan budaya, Nanda menggali makna di balik keterlibatan ribuan pelajar tersebut. Ia menyoroti bagaimana generasi muda dapat mengambil bagian dalam menjaga tradisi agar tetap dikenal dan diwariskan di tengah perubahan zaman.

Untuk menyusun laporan itu, Nanda mewawancarai sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari unsur pemerintah, tokoh budaya, guru, hingga pelajar. Perspektif tersebut digunakan untuk menggambarkan peran pendidikan dan keterlibatan generasi muda dalam upaya pelestarian budaya lokal.

Karya jurnalistik itu mengantarkan Nanda meraih juara ketiga pada FLS3N 2026 tingkat nasional yang diselenggarakan secara daring pada 5–10 Oktober 2026. Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Dalam proses persiapannya, Nanda mendapat pendampingan dari guru pembimbing, Edelweis Gardena EN.

Bagi Nanda, capaian tersebut bukan semata-mata tentang posisi dalam kompetisi, tetapi juga pengalaman mengembangkan kemampuan jurnalistik dan keberanian menyampaikan cerita melalui tulisan. Ia mengaku bersyukur atas dukungan orang tua, keluarga, guru pembimbing, dan teman-temannya selama proses persiapan hingga kompetisi berlangsung.

“Bagi saya, pencapaian ini bukan sekadar tentang sebuah gelar juara, tetapi juga tentang proses belajar, keberanian untuk terus berkarya, dan kesempatan untuk membawa nama sekolah serta Kalimantan Tengah di tingkat nasional,” ungkap Nanda.

Guru pembimbing Edelweis Gardena EN mengapresiasi pencapaian anak didiknya tersebut. Menurut dia, keberhasilan Nanda menunjukkan bahwa kesempatan untuk berkarya dan berprestasi tetap terbuka bagi pelajar daerah, meskipun harus menghadapi berbagai tantangan selama proses belajar.

“Prestasi ini menjadi bukti bahwa di tengah tantangan kabut asap, semangat untuk belajar, berkarya, dan berprestasi tidak boleh ikut meredup. Prestasi Nanda membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang bagi generasi muda Kalimantan Tengah untuk bersinar di tingkat nasional,” tutur Edelweis.

Prestasi Nanda sekaligus membawa cerita tentang budaya Kapuas ke panggung nasional melalui karya jurnalistik pelajar. Kisah kecapi dan Karungut yang ia angkat menunjukkan bahwa tradisi daerah tidak hanya dapat diperkenalkan melalui pertunjukan, tetapi juga melalui tulisan yang merekam keterlibatan masyarakat dalam menjaga warisan budaya. (SABRIANOOR/J)