BORNEONEWS, Sampit - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor meminta dukungan helikopter water bombing kepada Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan hutan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
"Jadi harapan kita yang khususnya yang kondisinya jauh yang puluhan kilo di atas masuk kawasan hutan, ini ya kita tetap harus ada water bombing untuk bisa menangani hal itu. Karena dengan jangkauan darat ini walaupun efektif tapi tidak mencapai ke sana," kata Halikinnor, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Permintaan itu disampaikan Halikinnor saat Menhut Raja Juli Antoni meninjau penanganan karhutla di Jalan Lingkar Utara, Sampit.
Halikinnor melaporkan, terdapat dua titik kebakaran yang menjadi perhatian, yakni di dalam Kota Sampit dan kawasan Desa Ganepo. Kebakaran di Ganepo cukup sulit ditangani karena lokasinya berada sekitar 7 hingga 9 kilometer dari tepi Sungai Mentaya.
Selain itu, kebakaran juga terjadi di Desa Camba, yang berada di kawasan hutan. Pemadaman di lokasi tersebut terus dilakukan meskipun petugas menghadapi kendala akses dan kondisi medan.
Halikinnor menyebut, penanganan karhutla di Kotim melibatkan ratusan personel yang bekerja secara bergiliran. Ia juga menyampaikan terima kasih atas tambahan dukungan personel Brimob dari Nusa Tenggara Barat (NTB) sebanyak 32 orang.
"Jadi total personel yang ada di luar relawan, Pak Menteri, itu ada 448 orang yang bekerja secara shift siang dan malam bergantian," ujarnya.
Untuk mendukung pemadaman, pemerintah dan unsur terkait mengerahkan 29 mobil tangki pemadam, 113 mesin alkon, serta sekitar 5.000 meter selang yang terdiri dari kurang lebih 168 unit. Mobil penyuplai air juga dikerahkan untuk mengisi kebutuhan armada pemadam, dengan total 43 unit dari OPD dan bantuan perusahaan.
Meski didukung peralatan dan personel, keterbatasan air menjadi kendala utama. Embung dan sumur bor yang sebelumnya digunakan sebagai sumber air dilaporkan mengering akibat kemarau panjang. Petugas terpaksa mengangkut air dari lokasi yang lebih jauh menggunakan sistem embung portabel secara estafet.
"Kesulitan kita saat ini, Pak Menteri, yaitu yang pertama bahwa kita kesulitan keterbatasan air. Karena embung-embung yang kita buat termasuk sumur bor, itu juga mengering. Mengering semua, itu betul-betul kering saat ini kemaraunya," bebernya.
Kondisi lahan gambut juga membuat pemadaman membutuhkan air dalam jumlah besar. Api yang tampak padam di permukaan masih berpotensi menyala kembali karena bara bertahan di bawah tanah. Karena itu, pembasahan harus dilakukan secara menyeluruh agar kebakaran tidak berulang.
Halikinnor berharap bantuan water bombing dapat menjangkau titik-titik kebakaran di kawasan hutan yang tidak bisa dicapai secara efektif oleh satgas darat. Sementara itu, pemadaman di wilayah perkotaan akan terus dioptimalkan melalui pengerahan personel dan peralatan yang tersedia. (DEWI PATMALASARI/y)









