PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Pulang Pisau – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Kristomei Sianturi meninjau langsung lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jalan Lintas Kalimantan, Desa Gohong tepatnya kawasan dekat Christian Center, Kabupaten Pulang Pisau, Senin, 19 Oktober 2026.

Usai meninjau lokasi kebakaran, Kepala BNPB melanjutkan agenda dengan menggelar rapat koordinasi lintas sektor sekaligus memberikan arahan terkait percepatan penanggulangan karhutla yang masih melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah.

Dalam arahannya, Kristomei menyoroti tingginya jumlah titik panas di Kalimantan Tengah yang disebut telah menempati peringkat pertama secara nasional sepanjang 2026.

Dari total 477.066 titik panas yang tercatat secara nasional, Kalimantan Tengah menyumbang sekitar 27 persen atau mencapai 129.502 titik panas.

"Kalimantan Tengah menyumbang 27 persen titik panas nasional, nomor satu di Indonesia. Angka ini bahkan 47 persen lebih tinggi dibandingkan tahun 2019 dan sudah setara dengan 66 persen dari kondisi pada tahun puncak kebakaran 2015," ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena sebagian besar kejadian kebakaran berlangsung dalam dua bulan, yakni Agustus dan September, dengan sekitar 75 persen kejadian berada di kawasan lahan gambut.

Bahkan, berdasarkan data yang dipaparkannya, sekitar 90 persen titik api aktif berada di lahan gambut yang memiliki karakteristik sulit dipadamkan.

"Gambut yang kering adalah bahan bakar sempurna. Api membakar dari bawah permukaan dan tidak bisa dipadamkan hanya dengan mengandalkan air dari udara," tegasnya.

Kristomei juga mengungkapkan, dalam tujuh hari terakhir Kalimantan Tengah mencatat 45.115 titik panas atau rata-rata hampir 6.500 titik per hari.

Dari kondisi tersebut, terdapat empat kabupaten yang menjadi perhatian utama, yakni Seruyan dengan 9.335 titik panas, Pulang Pisau 7.308 titik, Kotawaringin Barat 6.150 titik, dan Katingan 6.243 titik.

Khusus Kabupaten Seruyan dan Kotawaringin Barat, penanganan kebakaran menjadi prioritas pemadaman sehingga diperlukan pemusatan sumber daya untuk mempercepat pengendalian api.

Selain tingginya titik panas, Kepala BNPB turut menyoroti dampak kabut asap yang telah menyebabkan penurunan kualitas udara dan jarak pandang di sejumlah wilayah.

Ia menekankan bahwa kebakaran gambut membutuhkan penanganan lebih intensif karena api dapat terus menjalar di bawah permukaan meskipun kobaran di atas tanah terlihat telah padam.

Dalam paparannya terkait kondisi 18 Oktober 2026, Kristomei menyebutkan terdapat 459 hotspot yang terdeteksi satelit. Dari hasil verifikasi, ditemukan 66 titik api dengan luas mencapai 109,7 hektare.

Selain itu, terdapat 45 titik api dengan luas sekitar 389 hektare di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.

Upaya pemadaman telah dilakukan melalui operasi darat maupun udara. Namun, kondisi kabut asap tebal dan angin kencang masih menjadi kendala dalam proses penanganan kebakaran.

"Taman Nasional Tanjung Puting adalah kawasan ekosistem yang tidak boleh kita biarkan terbakar. Ini warisan alam yang tidak bisa dipulihkan hanya dalam satu generasi," tegasnya.

Kristomei mengakui bahwa kemampuan pemadaman di lapangan masih menghadapi tantangan besar, terutama karena laju perluasan kebakaran pada lahan gambut lebih cepat dibandingkan kemampuan penanganan tim.

"Kapasitas pemadaman darat kita masih kalah cepat dengan laju perluasan api, terutama di lahan gambut yang membakar dari bawah. Ini tantangan yang tidak akan selesai hanya dengan menambah personel," ujarnya.

Melalui rapat koordinasi lintas sektor tersebut, Kepala BNPB menekankan pentingnya penguatan strategi penanggulangan karhutla, optimalisasi sumber daya serta koordinasi seluruh pihak agar kebakaran tidak semakin meluas, khususnya di wilayah prioritas seperti Kabupaten Pulang Pisau. ( RETHA)