PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Aroma khas, rasa yang kuat, dan proses fermentasi yang diwariskan turun-temurun membuat wadi menempati ruang tersendiri dalam kuliner masyarakat Kalimantan Tengah.

Bagi sebagian masyarakat Dayak, wadi bukan sekadar lauk. Ia adalah bagian dari tradisi, cara mengolah ikan agar tahan lebih lama, sekaligus jejak pengetahuan lokal yang masih bertahan hingga sekarang.

Di balik cita rasanya yang khas, wadi juga menyimpan peluang ekonomi yang dinilai belum sepenuhnya digarap.

Anggota Komisi II DPRD Palangka Raya Noorkhalis Ridha melihat makanan fermentasi tersebut memiliki potensi untuk berkembang menjadi produk unggulan yang mampu menjangkau pasar lebih luas.

“Wadi memiliki potensi ekonomi yang besar karena merupakan makanan khas daerah yang memiliki cita rasa dan identitas budaya tersendiri. Potensi ini harus dimanfaatkan agar wadi tidak hanya dikenal di Kalimantan Tengah, tetapi juga mampu menembus pasar luar daerah,” kata Noorkhalis, Rabu, 21 Oktober 2026.

Tantangannya bukan hanya mengenalkan rasa.

Produk tradisional seperti wadi perlu masuk ke pasar modern tanpa kehilangan karakter aslinya. Kebersihan selama proses fermentasi, konsistensi kualitas, keamanan pangan, hingga kemasan menjadi bagian yang tak kalah penting.

Bagi pelaku UMKM, perubahan sederhana seperti kemasan yang lebih praktis, label yang jelas, dan pemasaran digital dapat membuka pasar yang sebelumnya sulit dijangkau.

Wadi yang dahulu lebih banyak hadir di meja makan keluarga berpeluang masuk ke rak oleh-oleh, pusat kuliner, hingga dipasarkan melalui platform daring.

Noorkhalis menilai pelaku usaha membutuhkan dukungan agar proses tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri.

Pendampingan perizinan, pelatihan pengolahan, promosi, hingga akses pameran dinilai penting untuk membantu produk lokal naik kelas.

“Jangan sampai potensi kuliner khas daerah hanya menjadi konsumsi lokal. Dengan inovasi, kualitas yang terjaga, dan dukungan pemasaran, wadi bisa menjadi produk yang membanggakan sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Jika dikelola dengan baik, nilai wadi tidak berhenti pada rasa dan tradisi.

Produk ini juga dapat menjadi sumber pendapatan bagi UMKM, membuka peluang kerja, dan ikut memperkenalkan identitas kuliner Kalimantan Tengah ke luar daerah.

Di titik itulah wadi menghadapi tantangan sekaligus peluang: tetap mempertahankan cita rasa tradisional, tetapi mampu tampil dengan standar yang membuatnya diterima pasar yang lebih luas. (MARINI/J)