BORNEONEWS, Sampit - Seorang siswi Madrasah Ibtidaiyah di Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur mengalami trauma akibat perundungan yang diduga dilakukan teman-temannya hingga tidak mau bersekolah.
"Pasti ada trauma ke sekolah itu. Makanya perlu dibantu psikolog tadi, makanya saya bilang tadi, kalau memang dia tidak mungkin lagi sekolah di situ, ya sudah dipindahkan ke sekolah lain yang bisa suasana baru, kehidupan pergaulan yang baru dan lingkungan yang baru," kata Bupati Kotim Halikinnor, Rabu, 21 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Halikinnor setelah mengunjungi rumah korban perundungan di Kecamatan Baamang.
Ia menerima laporan mengenai anak perempuan 10 tahun yang diduga berulang kali mengalami perundungan hingga enggan kembali ke sekolah.
Kasus ini menjadi perhatian setelah komunitas Nasi Darurat Sampit mengunggah kondisi korban dan keluarganya di media sosial.
Berdasarkan keterangan ibu korban, perundungan dilakukan secara verbal. Sepeda milik anak tersebut juga sempat dirusak oleh anak yang diduga sebagai pelaku. Perundungan itu disebut berlangsung sejak awal tahun ajaran baru, setelah korban pindah sekolah.
Halikinnor meminta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kotim mengirimkan psikolog untuk melakukan asesmen terhadap kondisi mental anak.
Ia juga meminta Kementerian Agama (Kemenag) turun tangan karena korban bersekolah di madrasah yang berada dalam pembinaan instansi tersebut. Kepala sekolah, guru, serta anak-anak yang diduga melakukan perundungan diminta dipanggil untuk menelusuri kejadian dan menentukan langkah penyelesaian.
"Saya minta Kemenag tadi langsung tangani itu, panggil kepala sekolah dan guru-gurunya juga anak-anak yang membully. Apakah anak itu nanti bisa tetap sekolah di situ atau nanti kita pindahkan," ujarnya.
Penanganan harus dilakukan agar perundungan tidak berlanjut dan korban bisa kembali memperoleh hak pendidikan dalam lingkungan yang aman.
Keputusan untuk mempertahankan korban di sekolah lama atau memindahkannya juga akan mempertimbangkan kondisi psikologis serta hasil penanganan pihak terkait.
Selain persoalan perundungan, Halikinnor mendapati rumah keluarga korban dalam kondisi tidak layak huni. Ibu korban merupakan seorang janda yang menjadi tulang punggung keluarga. Namun, ia kini belum bisa bekerja setelah mengalami kecelakaan.
Halikinnor meminta Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kotim mengupayakan bantuan perbaikan rumah tersebut. Jika anggaran pemerintah belum tersedia, ia akan mengajak pejabat daerah dan pengusaha untuk bergotong royong membantu keluarga korban.
"Besok saya minta ada atau tidak ada anggaran Baznas atau pemerintah, kita urun. Saya bisa saja urunan dengan seluruh pejabat yang ada atau pengusaha yang ada di Kotim ini. Di sinilah saatnya kita beramal untuk sesama kita," ucapnya.
Bantuan juga disiapkan untuk memperkuat kondisi ekonomi keluarga korban. Komunitas Nasi Darurat Sampit disebut akan membantu memberikan modal usaha kepada ibu korban. Pemerintah daerah pun siap mempertimbangkan bantuan tambahan apabila masih dibutuhkan.
Halikinnor mengapresiasi kepedulian komunitas tersebut karena telah menyampaikan informasi mengenai keluarga yang membutuhkan pertolongan.
Menurutnya, kolaborasi masyarakat dan pemerintah penting agar persoalan sosial yang luput dari perhatian dapat segera ditangani.
"Saya mengajak semua warga, terutama yang berkemampuan, jangan sampai tetangganya ada yang sampai menderita begini, kalau tidak membantu minimal diinformasikan kepada pemerintah. Kita bersama-sama untuk membantunya, supaya mengangkat derajat hidup mereka dan terutama yang anak didik jangan sampai tidak sekolah," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/R)









