PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Dalam kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang melanda Kalimantan Tengah dan seluruh wilayah Kalimantan lainnya memunculkan tudingan terhadap petani tradisional Dayak.

Muncul anggapan bahwa petani tradisional dianggap melakukan pembakaran untuk membuka lahan dan memulai masa tanam pertanian. Namun seorang Pengamat Ekonomi Perkebunan sekaligus akademisi pertanian, Rawing Rambang membantah tudingan tersebut.

Menurutnya, penggunaan alat pertanian modern dinilai telah mulai menggeser kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar di kalangan petani tradisional di Kalimantan Tengah.

Rawing Rambang, mengatakan praktik pembukaan lahan dengan membakar saat ini sudah semakin jarang dilakukan petani tradisional di Kalteng.

Menurut Rawing, perkembangan teknologi pertanian memberikan alternatif bagi petani untuk mengolah lahan tanpa harus mengandalkan cara-cara lama.

“Pada saat ini di Kalteng, menurut pandangan saya, sangat sedikit petani tradisional yang masih membuka lahannya dengan membakar,” ujar Rawing kepada Borneonews pada Jumat, 23 Oktober 2026.

Ia menyebut penggunaan peralatan pertanian modern, seperti traktor, menjadi salah satu pilihan petani dalam mempersiapkan lahan untuk kegiatan pertanian.

"Petani tradisional juga memiliki pengetahuan mengenai kondisi iklim. Mereka biasanya mempertimbangkan waktu hujan dan kemarau sebelum menentukan kegiatan pengolahan lahan," terang Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah ini lagi.

Ia menambahkan, apabila pembakaran masih dilakukan, petani tradisional biasanya memperhatikan kondisi lahan dan melakukan penjagaan bersama masyarakat sekitar untuk mencegah api menyebar.

Meski demikian, menurut Rawing, praktik tersebut perlu dilihat secara hati-hati, terutama ketika berhadapan dengan kawasan gambut yang rentan terbakar saat musim kemarau panjang.

"Karena itu, kami menilai edukasi kepada masyarakat tetap penting agar pembukaan lahan tidak menimbulkan risiko kebakaran yang lebih luas," tegasnya.

Upaya pencegahan, lanjutnya, perlu dilakukan bersama oleh pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi, terutama melalui sosialisasi sebelum musim kemarau tiba. (TESTI PRISCILLA/H)