JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pakar lingkungan Inggris, Sir Jonathon Porritt, mempertanyakan keputusan jaringan supermarket Iceland Food yang melarang pemakaian minyak sawit untuk produk makanan yang menggunakan nama merek perusahaan itu.

Menurut Porritt, langkah Iceland yang dimaksudkan untuk membantu menghentikan deforestasi di kawasan Asia Tenggara itu sebagai sesuatu yang tak berarti. Untuk diketahui, beberapa waktu lalu, Iceland memutuskan untuk tak lagi menjual produk yang mengandung minyak sawit di rak penjualan supermarket mereka. Alasannya, industri sawit dituding sebagai pemicu deforestasi.   

"Minyak sawit bukanlah pemicu deforestasi utama di kawasan tersebut. Mungkin itu pernah terjadi, tapi sekarang tidak lagi," ujar Porritt dalam blogpost yang dibagikan oleh Sime Darby beberapa waktu lalu.

"Pada tataran global, penebangan hutan untuk area peternakan, atau untuk tanaman yang dibutuhkan ternak, menjadi masalah yang lebih serius ketimbang konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Untuk ukuran masalahnya hingga 10 kali lebih serius, menurut perkiraan sejumlah analis," klaim Porritt, yang juga penulis dan pendiri Forum for the Future, sekaligus penasihat Sime Darby Plantation Bhd, perusahaan perkebunan asal Malaysia.

Porritt mengatakan Iceland Food membeli sekitar 500 ton minyak sawit setiap tahun untuk produk-produk dengan merek miliknya, angka itu sekitar 0,001% dari produksi tahunan minyak sawit global.

--page

Pakar lingkungan tersebut juga menyebutkan bahwa meski angkanya tidak signifikan, tapi larangan pemakaian minyak sawit oleh Iceland Food, akan memicu pengalihan sumber minyak nabati sebagai pengganti minyak sawit, yang kemungkinan besar minyak bunga matahari, minyak rapeseed dan minyak kedelai. Padahal, sumber minyak nabati selain sawit itu jelas membutuhkan lahan yang jauh lebih luas ketimbang lahan sawit untuk menghasilkan volume yang sama.   (NEDELYA RAMADHANI/m)