BUNTOK –

BORNEONEWS, Buntok - Desa Bundar adalah satu-satunya desa pusat pendidikan dan perekonomian di Kecamatan Dusun Utara di era 1960 hingga 2001.

Dari 1960, hanya Desa Bundar yang memiliki pasar mingguan yakni hari Selasa dan Rabu. Tak hanya itu, Desa Bundar juga tempat jual beli karet getah warga seputaran di Kecamatan Dusun Utara.

Bahkan di tahun 1970 yang lalu, satu-satunya desa yang memiliki tiga sekolah dasar negeri dan satu SLTP swasta. Sekolah tersebut yakni, SDN Bundar I, SDN Bundar II dan SD Inpres.

Karena hanya Desa Bundar yang memiliki pasar desa, tempat jual beli karet dan sekolah, maka warga desa lainnya sering pergi ke Desa Bundar untuk bersekolah maupun aktivitas jual beli. Desa lain yang dimaksud yakni Desa Hingan, Maruga, Gunung Rantau, Tamparak Layung, Rampa Mea, Panarukan, Hulu Tampang, Reong, Mantarem dan sekitarnya.

“Jadi banyak anak-anak yang bersekolah serta warga berbelanja dan menjual hasil perekonomiannya ke desa Bundar,” kata tokoh masyarakat Bundar, Bubun Andreas Djaper (73) kepada Borneonews, Rabu (23/5/2018).

--page

Ia menceritakan, seiring berjalannya waktu, pada tahun 1975 SMP swasta Bundar naik status menjadi SMP Negeri. Bahkan, pada tahun 1984 dibangun SMAS Tanjung Pinang Bundar.

Dengan didirikan SMA swasta, ibu kota kecamatan pun kalah dari segi pendidikan. Hal itu lantaran hanya Desa Bundar yang memiliki SMA di desa se Barsel.

“Desa Bundar pun diperhatikan oleh pemerintah Kabupaten dengan berbagai fasilitas dibangun, mulai dari PDAM, PLTD siang malam, jaringan telepon, bahkan SMA-nya sudah negeri,” tutur dia.

Namun lanjut dia, saat ini semua itu seolah-olah sirna bak ditelan bumi. Bagaimana tidak, meski memiliki fasilitas desa lengkap, harapan masyarakat Desa Bundar dan sekitarnya masih belum terpenuhi yakni pemekaran kecamatan. (URIUTU DJAPER/B-2)