PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Partisipasi masyarakat Kabupaten Kotawaringin Barat atau Kobar di pasar modal terus menguat. Hingga Agustus 2026, jumlah investor di daerah ini mencapai 32.800 investor atau 11,83 persen dari total investor di Kalimantan Tengah. Capaian tersebut menempatkan Kobar di posisi ketiga setelah Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Kapuas.

Peningkatan jumlah investor ini turut diikuti pertumbuhan nilai transaksi saham. Jika pada Agustus 2025 transaksi saham di Kobar tercatat Rp13,29 miliar, pada Agustus 2026 nilainya meningkat menjadi Rp20,16 miliar.

Artinya, nilai transaksi saham di Kobar bertambah Rp6,87 miliar atau sekitar 51,7 persen dalam setahun. Angka ini menunjukkan semakin aktifnya aktivitas investasi masyarakat di pasar modal, meskipun besarnya dampak terhadap perekonomian daerah tetap perlu dilihat bersama indikator lainnya.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, melihat perkembangan sektor jasa keuangan tersebut sebagai momentum untuk memperkuat literasi dan inklusi keuangan masyarakat.

"Secara keseluruhan, jumlah investor pasar modal di Kalimantan Tengah melonjak dari 130.330 investor pada Agustus 2025 menjadi 277.328 investor pada Agustus 2026," kata Primandanu pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Jumlah itu bertambah 146.998 investor atau tumbuh sekitar 112,8 persen dalam setahun.

Lonjakan tersebut memperlihatkan semakin luasnya partisipasi masyarakat dalam investasi. Bagi Kobar, perkembangan ini membuka peluang bagi masyarakat untuk mengenal instrumen investasi sebagai salah satu alternatif pengelolaan keuangan dan pembentukan aset jangka panjang.

Namun, peningkatan jumlah investor dan nilai transaksi tidak serta-merta berarti kesejahteraan masyarakat meningkat dalam besaran yang sama. Dampak ekonominya bergantung pada kualitas keputusan investasi, kemampuan mengelola risiko, serta konsistensi masyarakat dalam merencanakan keuangan.

"Karena itu, OJK mendorong agar pertumbuhan investor diikuti pemahaman mengenai karakteristik produk, potensi keuntungan, risiko kerugian, serta legalitas pihak yang menawarkan investasi," tuturnya.

Masyarakat juga perlu menyesuaikan pilihan instrumen dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing, bukan semata-mata mengikuti tren.

Di sisi lain, aset dana pensiun di Kalimantan Tengah juga meningkat 3,9 persen, dari Rp114,84 miliar pada Agustus 2025 menjadi Rp119,42 miliar pada Agustus 2026.

"Perkembangan ini memperkuat pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang, termasuk persiapan menghadapi masa pensiun," jelasnya lagi.

Peningkatan partisipasi pasar modal di Kobar menjadi peluang untuk memperluas akses masyarakat terhadap instrumen keuangan formal. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut berlangsung secara sehat, disertai literasi yang memadai dan pelindungan konsumen, sehingga masyarakat tidak hanya semakin aktif berinvestasi, tetapi juga mampu menjaga keberlanjutan kondisi keuangannya.

Dengan jumlah investor mencapai 32.800 orang dan nilai transaksi saham menembus Rp20,16 miliar, Kobar memiliki peran penting dalam perkembangan pasar modal di Kalimantan Tengah. Penguatan edukasi investasi menjadi kunci agar momentum pertumbuhan ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dalam membangun aset dan mempersiapkan masa depan. (TESTI PRISCILLA/y)