Dewan: Kuliner Khas Dayak Harus Dikenal Masyarakat Luas
Politisi PAN itu menyebutkan masih banyak sekali jenis makanan khas Dayak yang sampai saat ini tetap eksis secara turun-temurun.
Tag
Politisi PAN itu menyebutkan masih banyak sekali jenis makanan khas Dayak yang sampai saat ini tetap eksis secara turun-temurun.
Membahas tentang kuliner, setiap daerah tentu memiliki makanan khasnya masing-masing. Seperti halnya di Kelurahan Tapin Bini, Kecamatan Lamandau, Kabupaten Lamandau.
Tanteluh Laok Bapuyu merupakan sebutan masyarakat Dayak untuk Telur Ikan Betok. Laok (ikan) Bapuyu merupakan ikan khas perairan Kalimantan.
Jika biasanya masyarakat terbiasa dengan berbagai menu masakan yang terhidang di atas meja seperti menu utama, sayur dan sambal. Maka kandas seolah dapat memenuhi semua menu makanan, karena sudah mencakup sayur, lauk, dan sambal.
Juhu menjadi masakan andalan masyarakat Dayak dalam setiap kesempatan. Masakan berkuah dengan bahan-bahan khas Dayak ini biasa disajikan untuk menu sehari-hari, bahkan untuk acara besar.
Banyak yang tidak tahu bahwa kulit cempedak bisa dimakan. Masyarakat Dayak biasa mengolah kembali kulit cempedak menjadi jenis makanan baru yang disebut Mandai.
Singkah undus merupakan sebutan masyarakat Dayak untuk umbut muda batang sawit. Ya, sawit yang dikenal orang hanya dimanfaatkan tandan buahnya, bagi masyarakat Dayak bisa menjadi sayur yang lezat.
Daun labu sering dijadikan bahan sayur karena memiliki cita rasa yang khas.
Tidak harus ke hutan, tanaman sayur ini masih bisa didapatkan dengan mudah bahkan di Kota Palangka Raya. Jika malas mencari, banyak juga yang menjualnya
Menggarut tantimun oleh masyarakat Dayak tidak memerlukan peralatan canggih seperti yang saat ini banyak dijual. Cukup dengan sendok, Anda bisa menikmati garut tantimun khas Dayak.
Masyarakat Kalimantan Tengah, suku Dayak memang terbiasa dengan masakan berkuah ini. Kebanyakan memang daun Taya menjadi menu makanan warga yang beragama Kristen karena acap kali daun taya memang dipadupadankan dengan daging B2.
Masyarakat suku Dayak memiliki peribahasa "belum makan jika belum makan ikan". Hal ini karena memang masakan warga Dayak identik dengan berbagai jenis ikan, baik ikan laut maupun ikan sungai.
Orang Dayak, membuat nasi bakar ini bukan menggunakan potongan atau suwiran daging ikan seperti pada umumnya melainkan ikan lele dibuat menjadi Sambal Bubuk terlebih dahulu.
Ada beberapa bahan baku ikan yang sering dilakukan pengolahan menjadi wadi, misalnya Sasapat (Sepat), Jelawat, Patin, Papuyu (Betik/Betok), Behau (Gabus) dan berbagai jenis ikan lainnya. Selain ikan, daging babi juga menjadi pilihan untuk membuat wadi.
Kulat bantilung pasti tidak asing di telinga warga suku Dayak. Namun bagi masyarakat dari luar Dayak mungkin nama jenis jamur ini agak asing.
Dengan rasa yang tidak begitu manis ditambah teksturnya yang lembut dan mengandung banyak air membuat buah ini menjadi pilihan ketika panas terik menyerang di siang hari.
Tidak semua orang Dayak suka dengan daging anjing. Karenanya babi rica-rica dapat menjadi alternatif pilihan.
Salah satu kue khas Kalteng yang selalu tampil dalam upacaya adat adalah kue dange dan tampi
Daun singkong dalam masakan ini bukan yang utuh, melainkan yang telah ditumbuk halus menggunakan lesung/lisung.