BORNEONEWS, Tamiang Layang - Masyarakat Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, meminta rekanan PT Pertamina yaitu KE Babai Tanjung Ltd dan PT Sucofindo untuk menghentikan aktifitas seismik atau proses perekaman data kandungan gas atau minyak bumi.
Permintaan itu disampaikan masyarakat saat re-sosialisasi di aula Kantor Kecamatan Dusun Timur, Selasa (2/10/2018), yang dihadiri Lurah Tamiang Layang, Wakapolsek Dusun Timur, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bartim.
Masyarakat mengeluhkan aktivitas tersebut dikarenakan efek getaran yang mengakibatkan banyaknya bangunan rumah rusak, serta mengeluarkan suara ledakan yang menakutkan warga.
“Kita meminta rekanan PT Pertamina menghentikan aktivitasnya. Karena mengancam keselamatan serta menambah kerusakan rumah warga,” kata Bandju T Mangko, perwakilan warga.
Bandju T Mangko.yang juga Ketua Yayasan SMK Jajaka Barito Timur, ini sangat mengkhawatirkan aktivitas itu mengganggu kegiatan belajar mengajar di sekolahnya.
--page
"SMK Jajaka ini bangunannya tingkat dua. Saya khawatir saat dilakukan peledakan tiba-tiba gedung runtuh,” ujar Bandju T Mangko, yang juga mantan Sekda Bartim.
Sementara itu Humas PT Sucofindo, Hendro, mengatakan pihaknya tidak melakukan peledakan seperti kegiatan tambang batu-bara yang menggunakan dinamit. Sementara untuk kegiatan ini, pihaknya menggunakan jell.
“Seismik atau perekaman kandungan gas atau minyak bumi ini menggunakan Jell, namun dalam kerjanya mengeluarkan semacam suara yang menyebabkan getaran," kata Hendro.
"Efeknyapun tidak ada di area sekitaran titik peledakan. Kerusakan bangunan tersebut dikarenakan mungkin kontruksi bangunannya tidak standar, dan juga konstruksi mitologi tanah,” ujarnya.
Sementara perwakilan KE Babai Tanjung Ltd, Nurdin Pramana akan menyampaikan ke manajemen perusahaan terkait permintaan masyarakat tersebut. Juga melaporkan ke Bupati Barito Timur hingga kepolisian.
“Untuk hasil final nantinya kembali kepada pemerintah dalam hal ini yaitu SKK, apakah aktivitas seismik dilanjutkan atau tidak atau ada opsi lain. Kita sudah tiga hari tidak melakukan aktivitas karena ada protes dari warga,” timpalnya. (PRASOJO EKO APRIANTO/B-11)








