SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor meminta seluruh jajaran pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau panjang yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan kekeringan. 

Hal tersebut disampaikan menyusul prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika yang menyebutkan kemarau tahun ini menjadi yang terpanas dalam 30 tahun terakhir dan berlangsung lebih lama dari biasanya.

"Biasanya kemarau hanya satu sampai dua bulan, tapi tahun ini diperkirakan bisa mencapai empat hingga enam bulan. Karena itu kita rapatkan kesiapan, mulai dari rencana aksi hingga kebutuhan anggaran," ujarnya, Kamis, 23 April 2026.

Ia menegaskan, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) diminta segera menyusun langkah antisipasi lengkap dengan kesiapan personel dan peralatan, agar daerah siap menghadapi potensi bencana.

Menurutnya, penanganan karhutla tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

"Kalau menemukan api kecil, tolong segera dipadamkan. Jangan menunggu membesar karena akan semakin sulit ditangani," tegasnya.

Halikinnor menjelaskan, karakteristik lahan gambut di Kotim membuat proses pemadaman kebakaran menjadi lebih sulit, terlebih jika terjadi di wilayah terpencil yang sulit dijangkau.

Ia juga mengingatkan dampak luas karhutla, mulai dari terganggunya kesehatan, pendidikan, transportasi hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Selain ancaman kebakaran, musim kemarau panjang juga berpotensi menyebabkan kekeringan dan krisis air bersih, khususnya di wilayah selatan Kotim. Kondisi tersebut terjadi karena sebagian masyarakat masih bergantung pada air hujan, sementara air sungai setempat cenderung payau akibat intrusi air laut.

"Kebutuhan air bersih nanti kemungkinan akan disuplai dari Sampit untuk membantu wilayah selatan," tambahnya.

Ia berharap seluruh pihak dapat terlibat aktif dalam upaya pencegahan, mengingat dampak karhutla dirasakan secara luas oleh masyarakat. (DEWI PATMALASARI/y)