BORNEONEWS, Palangka Raya - Desa Habeahan, Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan menjadi pusat diskusi strategis dalam kegiatan International Community Development Program of Equity Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penguatan Kapasitas Kelembagaan dan Keberlanjutan Lingkungan Berbasis Ketahanan Menuju Desa Mandiri dan Produktif”. Kegiatan ini mempertemukan unsur pemerintah daerah, akademisi, mitra internasional, tokoh masyarakat, serta warga desa dalam merumuskan langkah kolaboratif menuju pembangunan desa yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan Bupati Humbang Hasundutan melalui Staf Ahli Bupati, Parman L. Gaol, serta unsur BPBD dan dinas terkait, di antaranya Sabar H. Purba dan Ibu Kartini. Turut hadir Camat Lintong Nihuta Ronald Nababan, Kepala Desa Habeahan Rusman Sihombing, Sekretaris Desa Habeahan Torang Simanulang, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga Desa Habeahan yang aktif menyampaikan aspirasi dan gagasan pembangunan desa.
FGD ini dipimpin oleh Tim Pengabdian Universitas Sumatera Utara yang diketuai oleh Prof. Rahmawaty, S.Hut., M.Si., Ph.D., bersama anggota tim yakni Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, MP, Dr. Ir. Bejo Slamet, S.Hut., M.Si., IPM, Ir. Yusak Maryunianta, MP, serta Nur Ulina Warnisyah Sebayang, M.Agr. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa dan alumni Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara sebagai bagian dari implementasi pengabdian masyarakat berbasis kolaborasi akademik.
Penguatan perspektif global turut dihadirkan melalui partisipasi mitra internasional, yakni Universiti Putra Malaysia yang diwakili oleh Prof. Gs. Ts. Dr. Mohd. Hasmadi Ismail serta Universiti Teknologi MARA yang diwakili oleh Assoc. Prof. Dr. Seca Gandaseca. Kehadiran akademisi internasional tersebut memperkuat pertukaran pengetahuan mengenai pembangunan masyarakat berbasis lingkungan dan penguatan kelembagaan desa.
Dalam sesi diskusi, berbagai persoalan strategis desa mengemuka. Hendri Siregar menyoroti pentingnya revitalisasi embung desa melalui pengerukan dasar embung agar mencapai kedalaman ideal 1,5–2 meter.
"Selain mendukung ketahanan air dan budidaya perikanan, embung tersebut diusulkan untuk dibetonisasi dan dikembangkan sebagai ruang wisata desa serta jalur jogging track bagi lansia," kata Hendri dalam rilis kepada Borneonews pada Kamis, 23 April 2026.
Lokasi embung yang berdekatan dengan kantor desa dan Koperasi Merah Putih dinilai memiliki potensi besar menjadi pusat aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Sementara itu, Joslan Sinambela mengangkat tantangan sektor pertanian hortikultura, khususnya tingginya harga pupuk kimia dan perlunya inovasi pengelolaan limbah organik desa menjadi pupuk organik.
"Pengembangan pupuk organik berbasis limbah lokal dapat meningkatkan kualitas jeruk madu khas Habeahan agar memiliki cita rasa lebih manis dan berdaya saing tinggi di pasar," tuturnya.
Ia juga menyampaikan harapan masyarakat terhadap bantuan alat pencacah limbah organik guna mendukung produksi kompos mandiri bagi petani. Komoditas jeruk madu dan cabai disebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai produk unggulan Desa Habeahan, bahkan berpeluang menjadi identitas hortikultura unggulan kawasan Lintong Nihuta selain kopi.
Dari sisi sosial dan spiritual, tokoh agama setempat menekankan pentingnya membangun kesadaran ekologis masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan hidup. Nilai-nilai kepedulian terhadap alam dinilai perlu terus diperkuat agar pembangunan desa berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.
Diskusi juga membahas penguatan ekonomi desa melalui pengembangan pakan mandiri berbasis sumber daya lokal. Abdullah Haris Lumban memaparkan potensi pemanfaatan jagung sebagai bahan baku pakan ikan berprotein tinggi melalui teknologi mesin pelet. Inisiatif tersebut diharapkan mampu mendukung budidaya ikan di embung desa sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan ekonomi berbasis koperasi desa.
Ketua Tim Pengabdian Universitas Sumatera Utara, Prof Rahmawaty mengatakan bahwa melalui forum ini, Desa Habeahan menunjukkan komitmen kuat untuk membangun desa mandiri berbasis kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, dan mitra internasional.
"Semangat gotong royong, inovasi lokal, dan kesadaran lingkungan menjadi fondasi utama dalam mewujudkan pembangunan desa yang produktif, tangguh, dan berkelanjutan," tutupnya.
“Bergerak dari desa untuk membangun negara melalui kerja keras, inovasi, dan kreativitas masyarakat,” menjadi semangat yang mengemuka dalam forum diskusi tersebut. (TESTI PRISCILLA/y)









