BORNEONEWS, Sampit – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, menyusul prediksi musim kemarau tahun ini yang disebut menjadi salah satu periode terpanas dalam 30 tahun terakhir.
"Sebagaimana ramalan cuaca, kita memasuki musim kemarau dan kenyataannya panas tahun ini kemungkinan menjadi yang terpanas dalam 30 tahun terakhir berdasarkan informasi dari BMKG. Karena itu saya mengimbau seluruh masyarakat, khususnya yang masih menggarap lahan, agar berhati-hati. Kalau bisa jangan membuka lahan dengan cara membakar," kata Halikinnor, Senin, 6 Juli 2026.
Ia menjelaskan, kondisi cuaca yang sangat panas membuat potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat. Menurutnya, jika api sudah membesar maka proses pemadaman akan menjadi sangat sulit, terlebih karakteristik wilayah Kotim didominasi lahan gambut.
Halikinnor mencontohkan kebakaran yang sempat terjadi di dekat kawasan Bandara H Asan Sampit beberapa waktu lalu. Meski lokasi kebakaran tidak terlalu luas, proses pemadamannya tetap membutuhkan upaya besar dari petugas.
"Kalau mulai terjadi kebakaran, kita akan kesulitan. Seperti kemarin ada kebakaran dekat bandara. Dengan lokasi yang tidak terlalu besar saja, kita sudah setengah mati melakukan pemadaman," ujarnya.
Selain mengingatkan masyarakat yang mengelola lahan, ia juga meminta warga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di kawasan permukiman. Ia mengimbau masyarakat berhati-hati saat menggunakan instalasi listrik maupun api dari tungku kayu bakar agar tidak memicu kebakaran.
"Kepada masyarakat di permukiman juga agar lebih berhati-hati dalam penggunaan listrik ataupun bagi yang masih menggunakan kayu bakar, sehingga bisa mengantisipasi sejak dini kebakaran permukiman maupun kebakaran hutan dan lahan," tambahnya.
Menurut Halikinnor, apabila kebakaran terjadi di lahan gambut, dampaknya tidak hanya menyulitkan proses pemadaman, tetapi juga berpotensi menimbulkan kabut asap yang mengganggu berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Ia menyebut kabut asap dapat menghambat aktivitas transportasi, mengganggu kesehatan masyarakat, menghambat proses pendidikan, hingga memberikan dampak negatif terhadap perekonomian daerah.
"Kalau api sudah besar, kita tahu daerah kita adalah daerah gambut yang sangat sulit dipadamkan. Kalau sampai menimbulkan asap, semua aktivitas akan terganggu, mulai dari kesehatan, pendidikan, transportasi hingga ekonomi secara keseluruhan," tegasnya.
Karena itu, Halikinnor kembali mengingatkan seluruh masyarakat agar mengutamakan langkah pencegahan dibandingkan penanganan setelah kebakaran terjadi.
"Jadi sekali lagi saya menghimbau masyarakat, termasuk kita semua, agar berhati-hati dalam penggunaan api dan bersama-sama menjaga supaya tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan. Kondisi saat ini sudah sangat panas, sehingga kalau sampai terjadi kebakaran akan sangat sulit dipadamkan. Lebih baik kita mencegah daripada menghadapi kebakaran besar yang berdampak luas bagi kehidupan masyarakat," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









