BORNEONEWS, Pangkalan Bun - DPRD Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) mengungkapkan bahwa pemadaman listrik bergilir yang terjadi di wilayah Kobar bukan disebabkan gangguan jaringan lokal, melainkan akibat defisit pasokan listrik pada sistem Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Ketua DPRD Kobar Mulyadin, Jumat, 31 Juki 2026 mengatakan persoalan tersebut telah dibahas bersama PLN dalam rapat kerja Komisi C DPRD dengan UP3 PLN Pangkalan Bun pada 7 Juli 2026.
"Dalam rapat tersebut pihak PLN menyampaikan permohonan maaf atas situasi dan kondisi yang menyebabkan pemadaman serta ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat," jelas Mulyadin.
Mulyadin menjelaskan berdasarkan penjelasan PLN, sumber persoalan berasal dari pembangkit listrik di wilayah Kalimantan Selatan sehingga berdampak pada pasokan listrik untuk Kalimantan Tengah, termasuk Kabupaten Kobar.
"Permasalahan ini bukan berasal dari Kabupaten Kobar, tetapi terjadi pada pembangkit di Kalimantan Selatan. PLN juga sudah mengoptimalkan pembangkit di Katingan dan Murung Raya, namun kebutuhan listrik Kalimantan Tengah masih belum terpenuhi," jelas Mulyadin.
Mulyadin menambahkan, sekitar 5anggal 27 Juli 2026, Kepala PLN bersama jajaran UP3 kembali mendatangi ruang Ketua DPRD untuk menyampaikan perkembangan terbaru terkait kondisi kelistrikan.
"Beliau kembali menyampaikan permohonan maaf karena kondisi defisit daya saat ini lebih parah dibanding sebelumnya sehingga pemadaman bergilir masih harus dilakukan," jelas Mulyadin.
Menurut Mulyadin, PLN juga mengimbau masyarakat agar bersabar serta mengurangi penggunaan listrik pada jam-jam tertentu selama kondisi sistem kelistrikan belum kembali normal.
Meski demikian, DPRD mengaku belum dapat memastikan penyebab utama terjadinya defisit pasokan listrik tersebut karena berada di luar kewenangan pemerintah daerah.
"Kita sebenarnya tidak tahu persis apa yang sesungguhnya terjadi. Apakah murni karena gangguan teknis atau ada faktor lain. Yang jelas kami berharap persoalan ini segera selesai sehingga masyarakat bisa kembali menikmati pasokan listrik secara normal," jelas Mulyadin. (WAHYU KRIDA/j)









