TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Jumlah titik panas atau hotspot yang terdeteksi di Kabupaten Barito Timur, terus menurun dalam rangkaian data pemantauan terbaru. Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) mencatat tiga titik panas dalam pemantauan 24 jam terakhir yang diperbarui pada Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 06.43 WIB. Seluruh titik tersebut terkonsentrasi di wilayah Kelurahan Pasar Panas/Taniran, Kecamatan Banua Lima.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, menyampaikan data pemantauan tersebut. Tren penurunan terlihat ketika catatan terbaru dibandingkan dengan data sebelumnya, yakni 16 titik pada pembaruan 19 Oktober, lima titik pada 21 Oktober dan tiga titik pada 22 Oktober 2026.

“Berdasarkan data pemantauan SiPongi, jumlah titik panas di Kabupaten Barito Timur menunjukkan penurunan. Pada pembaruan terbaru, tercatat tiga titik panas dan seluruhnya berada di wilayah Kelurahan Pasar Panas/Taniran, Kecamatan Banua Lima,” ujar Parluhutan.

Dibandingkan dengan pembaruan sehari sebelumnya yang mencatat lima titik panas di tiga kecamatan, jumlah terbaru berkurang dua titik. Penurunan tersebut membuat sebaran indikasi panas dalam data terkini terpusat di satu kecamatan, berbeda dengan catatan sebelumnya yang mencakup wilayah Dusun Timur, Dusun Tengah dan Paku.

Berdasarkan waktu pengamatan, satu titik panas terdeteksi pada Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 01.11 WIB. Dua titik lainnya terpantau pada Rabu, 21 Oktober 2026, pukul 12.27 WIB. Ketiganya terdeteksi menggunakan instrumen satelit Suomi NPP atau SNPP dengan skor tingkat kepercayaan 70, yang masuk kategori sedang.

“Walaupun jumlah titik panas yang terdeteksi berkurang, pemantauan tetap perlu dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi di lapangan. Data satelit merupakan informasi awal sehingga perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan langsung guna memastikan apakah terdapat kebakaran atau tidak,” terang Parluhutan.

Dalam membaca tren tersebut, penurunan jumlah hotspot tidak serta-merta dapat diartikan sebagai penurunan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Data SiPongi merekam indikasi anomali panas pada periode pengamatan tertentu, sedangkan kepastian mengenai keberadaan api dan kondisi lahan memerlukan pemeriksaan langsung di lokasi.

Seluruh titik panas terbaru berada dalam kategori tingkat kepercayaan sedang. SiPongi tidak mencatat titik berkategori tinggi maupun rendah dalam pembaruan tersebut. Kondisi ini perlu dipahami secara cermat agar angka deteksi satelit tidak disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran yang telah terverifikasi.

Pemusatan tiga titik panas di Kelurahan Pasar Panas/Taniran menjadi informasi penting bagi pemantauan potensi karhutla di Kecamatan Banua Lima. Pemeriksaan lapangan diperlukan untuk memastikan kondisi aktual, menentukan kebutuhan penanganan dan mengantisipasi kemungkinan kebakaran yang dapat meluas apabila ditemukan sumber api.

Dengan demikian, data terbaru SiPongi memperlihatkan penyusutan jumlah indikasi panas yang terdeteksi di Barito Timur, dari 16 titik pada 19 Oktober menjadi tiga titik pada 22 Oktober 2026. Meski demikian, pemantauan berkelanjutan dan verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk memastikan bahwa tren penurunan tersebut sejalan dengan kondisi karhutla yang sebenarnya. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)