BORNEONEWS, Sampit – Sejumlah anak di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mendapat pengalaman mengenal tradisi Bubur Baayak secara langsung di Jalan Ir H Juanda. Mereka tidak hanya melihat proses pembuatannya, tetapi juga ikut membantu mengaduk adonan panganan tradisional yang dibuat untuk tradisi Arba Mustamir.
Anak-anak terlihat antusias menyaksikan warga menyiapkan bahan hingga memasak Bubur Baayak menggunakan kawah berukuran besar. Beberapa di antaranya bahkan mendapat kesempatan mencoba mengaduk adonan secara bergantian.
Pengalaman tersebut menjadi cara sederhana untuk mengenalkan tradisi lokal kepada generasi muda. Anak-anak dapat melihat bahwa pembuatan Bubur Baayak bukan sekadar aktivitas memasak, tetapi dilakukan secara bersama-sama dan melibatkan masyarakat.
Tradisi tersebut dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan Safar. Sebanyak 1.200 mangkuk Bubur Baayak disiapkan untuk kemudian didoakan dan dibagikan kepada warga.
"Setelah dibuat dan didoakan, bubur dibagikan kepada warga. Jadi ada silaturahmi dan kebiasaan berbagi yang ingin terus dijaga," ujar tokoh masyarakat sekaligus penggiat tradisi, Muhammad Yunus, Rabu, 12 Agustus 2026.
Ia mengatakan, keterlibatan anak-anak dalam proses pembuatan Bubur Baayak menjadi bagian penting agar mereka mengenal tradisi yang masih dipertahankan masyarakat Sampit.
Anak-anak dapat melihat langsung bagaimana bahan-bahan sederhana diolah menjadi makanan dalam jumlah besar. Mereka juga belajar bahwa proses tersebut membutuhkan kerja sama banyak orang.
Untuk menghasilkan sekitar 1.200 mangkuk Bubur Baayak, warga menggunakan sedikitnya 40 kilogram tepung beras yang dimasak dalam 10 kawah atau wajan berukuran besar.
Bahan lainnya terdiri dari sekitar 35 kilogram gula pasir, 15 kilogram gula merah dan 30 kilogram santan. Adonan kemudian ditambahkan garam, daun pandan serta air untuk menghasilkan rasa dan aroma khas.
Bubur Baayak memiliki warna cokelat dengan perpaduan rasa manis gula merah dan gurih santan. Panganan tersebut menjadi salah satu kuliner tradisional yang masih hadir dalam rangkaian tradisi masyarakat pada bulan Safar.
Ada pula keunikan dalam proses pengolahan tepung yang digunakan. Tepung beras terlebih dahulu melalui proses pengayakan. Pada masa lalu, masyarakat menggunakan saringan yang dibuat dari anyaman daun nyiur.
Istilah Baayak sendiri berkaitan dengan proses tersebut. Dalam bahasa Banjar, ayak merujuk pada aktivitas menyaring atau menggoyangkan bahan menggunakan ayakan.
Setelah Bubur Baayak matang, panganan tersebut kemudian didoakan. Selepas salat Ashar, sekitar 1.200 mangkuk dibagikan kepada warga sekitar maupun masyarakat yang datang untuk mencicipinya.
Bagi masyarakat yang masih mempertahankan tradisi tersebut, membagikan Bubur Baayak merupakan bentuk sedekah dan berbagi yang sederhana. Makanan yang dibuat secara gotong royong menjadi sarana mempererat silaturahmi sekaligus berbagi dengan sesama. (DEWI PATMALASARI/j)









