BORNEONEWS, Palangka Raya – Lebih dari 300 orangutan saat ini masih menjalani perawatan dan rehabilitasi di dua pusat yang dikelola Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS), yakni Nyaru Menteng di Kalimantan Tengah dan Samboja Lestari di Kalimantan Timur.
Ketua Pengurus Yayasan BOS Jamartin Sihite mengatakan proses menyelamatkan dan memulihkan satu individu orangutan membutuhkan waktu panjang sebelum satwa tersebut dinilai siap kembali ke habitat alaminya.
"Dibutuhkan bertahun-tahun untuk memulihkan mereka dari konflik dan mengembalikan mereka ke alam. Namun, pelepasliaran bukanlah akhir. Kita harus memastikan hutan tetap ada, tetap sehat, dan tetap menjadi rumah bagi mereka," kata Jamartin dalam pernyataan yang diterima di Palangka Raya, Rabu, 19 Agustus 2026.
Menurutnya, perlindungan orangutan tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga keberadaan hutan. Habitat yang tetap terjaga menjadi faktor penting agar orangutan yang telah dilepasliarkan dapat bertahan hidup secara alami.
"Saat melindungi hutan untuk orangutan, sesungguhnya manusia sedang melindungi masa depannya sendiri. Saatnya tidak hanya peduli, saatnya bertindak," ujarnya.
Jamartin menyampaikan hal tersebut berkaitan dengan peringatan Hari Orangutan Sedunia 2026 yang mengusung tema Act for Orangutans: Their Forest, Our Future.
Ia menilai masa depan orangutan sangat bergantung pada keputusan dan tindakan yang dilakukan saat ini, mulai dari perlindungan pohon dan kawasan hutan hingga rehabilitasi serta pelepasliaran satwa ke habitatnya.
Yayasan BOS juga mengajak masyarakat mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing dalam mendukung perlindungan satwa liar dan kelestarian hutan.
Dukungan berbagai mitra dan donor, menurut yayasan, turut membantu keberlangsungan program penyelamatan, rehabilitasi, pelepasliaran serta perlindungan habitat orangutan di Indonesia.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah Andi Muhammad Kadhafi mengatakan konservasi orangutan membutuhkan kerja bersama, mulai dari penanganan konflik antara manusia dan satwa hingga penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar.
"Namun, keberhasilan konservasi tidak akan tercapai tanpa dukungan masyarakat. Setiap langkah untuk menjaga hutan, menghentikan perdagangan satwa liar, dan menghormati keberadaan orangutan di habitat alaminya merupakan kontribusi nyata bagi masa depan keanekaragaman hayati Indonesia," katanya.
Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Timur M Ari Wibawanto menegaskan keberlangsungan hidup orangutan sangat bergantung pada kelestarian habitatnya.
Karena itu, perlindungan kawasan konservasi, pemulihan habitat serta pengelolaan bentang alam secara berkelanjutan harus menjadi bagian dari strategi konservasi.
"Tema Their Forest, Our Future mengingatkan bahwa ketika kita menjaga hutan sebagai rumah orangutan, pada saat yang sama kita juga menjaga fungsi ekologis yang menopang kehidupan manusia, baik hari ini maupun di masa mendatang," katanya.









