BORNEONEWS, Sampit - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor mengerahkan perusahaan besar swasta (PBS) perkebunan untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di titik api yang berada di sekitar operasional.
"Kita melaksanakan rapat lanjutan. Kemarin kita melanjutkan status tanggap darurat, dan hari ini kita rapat evaluasi dengan mengundang seluruh perusahaan perkebunan yang ada di Kabupaten Kotim," kata Halikinnor.
Hal tersebut dibahas dalam rapat evaluasi penanganan karhutla yang melibatkan seluruh perusahaan perkebunan di Kotim.
Dalam rapat tersebut, pemerintah daerah memetakan sejumlah titik api yang membutuhkan dukungan perusahaan terdekat agar pemadaman dan pendinginan dapat dilakukan lebih cepat.
Halikinnor mengatakan, upaya pemadaman dan pendinginan terus dimaksimalkan, termasuk dengan memanfaatkan dukungan perusahaan yang memiliki sumber daya dan peralatan di sekitar lokasi karhutla.
Lanjutnya, hasil pemetaan menunjukkan masih terdapat sejumlah titik api yang berada jauh dari jangkauan Satgas. Bahkan, beberapa lokasi berjarak puluhan kilometer dari sumber air seperti sungai maupun sumur bor.
"Jadi, kita buka peta bahwa ada satu dua titik yang memang berada jauh dari jangkauan kita. Misalnya ada yang puluhan kilo dari sumber air, misalnya dari sungai atau dari sumur bor misalnya," imbuhnya.
Karena itu, perusahaan yang lokasinya paling dekat dengan titik api diminta turun membantu proses penanganan.
"Itu kita minta bantuan perusahaan untuk bisa memadamkan, khususnya perusahaan yang terdekat dari titik api tersebut," tegas Halikinnor.
Sementara itu, Wakil Bupati Kotim Irawati menyampaikan dalam kesimpulan rapat, terdapat pembagian wilayah perusahaan yang diminta membantu penanganan titik api. Di Bukit Indah, bantuan diarahkan kepada PT Unggul Lestari, sedangkan titik karhutla di Cempaga Hulu diminta ditangani BGA bersama perusahaan lainnya di wilayah tersebut.
"Kota Besi, itu ada NSP juga dan dibantu oleh perusahaan lain juga dibantu water bombing perusahaan, mereka saat ini juga masih siap kerja sama dengan masyarakat," ujar Irawati.
Sementara untuk wilayah Penda Durian, perusahaan yang diminta membantu yakni KLK Group dan PT Wilmar. Di Bagendang, bantuan diarahkan kepada PT SKD karena lokasinya dinilai paling dekat dengan titik kebakaran.
"Di Bagendang tadi itu yang lebih dekat itu ada dari PT SKD, tolong dibantu pada saat wilayah itu sebelum apinya besar, segera kita sama-sama memadamkannya," kata Irawati.
Untuk wilayah Seranau, terdapat PT RMU dan satu perusahaan lainnya yang berada di kawasan perbatasan Ganepo dan Rawasari. Sedangkan untuk Pulau Hanaut, bantuan perusahaan yang tersedia dari PT RMU.
Irawati juga menyebut kemungkinan pengerahan water bombing ke wilayah Pulau Hanaut apabila dukungan tersebut tiba hari ini. Namun, ia menegaskan pemadaman utama tetap dilakukan Satgas darat.
"Kalau di wilayah Seranau ada PT RMU dan 1 perusahaan lagi, itu di wilayah perbatasan Ganepo dan Rawasari. Dan kalau Pulau Hanaut hanya ada PT RMU. Mungkin di situ nanti kalau memang water bombing hari ini jadi datang mungkin kita arahkan ke sana untuk pemadaman," tuturnya.
Menurut Irawati, water bombing lebih efektif untuk membantu proses pendinginan, sedangkan pemadaman hingga api benar-benar padam tetap membutuhkan kerja Satgas darat dari jarak dekat.
"Tetapi sebenarnya yang pure bekerja itu adalah satgas darat. Water bombing itu cuma pendinginan saja. Tapi kalau bener-bener memadamkan, itu adalah satgas darat yang bekerja bener-bener sampai kita bisa padam karena diguyur dari dekat. Beda dengan water bombing," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









