BORNEONEWS, Sampit - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor berharap pembangunan kembali SMAN 1 Cempaga yang terbakar dapat dianggarkan dalam APBD Kalteng 2027 sehingga sekolah tersebut bisa segera dibangun dengan kondisi yang lebih representatif.
"Saat ini pembahasan (anggaran) 2027 masih belum selesai. mudah-mudahan tahun depan langsung bisa dibangun dengan representatif, bangunannya cukup bagus, karena ini pinggir jalan negara. Nanti saya sampaikan langsung kepada Pak Gubernur," kata Bupati Kotim Halikinnor, Minggu, 27 September 2026.
Hal itu disampaikan Halikinnor setelah meninjau langsung kondisi SMAN 1 Cempaga pascakebakaran bersama Wakil Bupati Kotim Irawati dan Pj Sekda Kotim Diana Setiawan.
Halikinnor mengatakan pembangunan kembali SMAN 1 Cempaga perlu menjadi perhatian setelah sejumlah fasilitas sekolah mengalami kerusakan akibat kebakaran. Ia berharap nantinya bangunan sekolah dapat dibangun dengan kondisi yang lebih layak dan representatif.
Sebelumnya, kebakaran SMAN 1 Cempaga terjadi pada Minggu sekitar pukul 02.30 WIB dini hari. Sejumlah ruangan terdampak, di antaranya ruang kepala sekolah, ruang wakil kepala sekolah, ruang guru serta tiga ruang belajar.
Berdasarkan informasi awal dari kepolisian, kebakaran diduga berkaitan dengan korsleting pada panel surya yang terpasang di sekolah dan bukan akibat rambatan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Jadi ini memang berdasarkan informasi dari pihak kepolisian, dalam hal ini Polsek Cempaga, ini terindikasi dari korsleting panel surya yang ada. Listrik tenaga surya yang kemungkinan korslet sehingga itu mengakibatkan terjadinya kebakaran," tambahnya.
Meski sejumlah ruangan terbakar, Halikinnor memastikan tidak seluruh fasilitas pembelajaran mengalami kerusakan. Sebagian bangunan masih dapat dimanfaatkan sehingga kegiatan belajar mengajar tetap diupayakan berjalan.
"Kita turut prihatin karena dengan musibah ini terutama akan mengganggu proses belajar mengajar. Saya tadi sudah bicara dengan kepala sekolah bagaimana upaya saat ini mengenai proses belajar mengajar. Tapi beliau mengatakan bahwa gedung-gedung yang ada ini masih bisa nanti digunakan," katanya.
Menurutnya, pengaturan jam belajar dapat menjadi salah satu opsi agar seluruh siswa tetap dapat mengikuti pembelajaran dengan fasilitas yang tersedia.
"Sistemnya mungkin ada yang diatur jam atau mungkin masih cukup untuk proses belajar mengajar. Alhamdulillah, artinya tidak semua bangunan untuk belajar itu terbakar, sehingga masih bisa dimanfaatkan dengan tinggal bagaimana pengaturannya," ujarnya.
Selain ruang belajar, kebutuhan mendesak lainnya adalah tempat bagi guru dan kepala sekolah untuk kembali menjalankan aktivitas. Halikinnor mengatakan masih terdapat gedung laboratorium yang dapat digunakan sementara sebagai ruang kantor.
"Yang mendesak, karena ruang guru, ruang kepala sekolah itu terbakar, ini yang mendesak. Sehingga mereka tadi masih ada gedung lab yang bisa dimanfaatkan untuk ruang kantor sementara," jelasnya.
Untuk menunjang penggunaan ruang sementara tersebut, sekolah membutuhkan meja dan kursi bagi kepala sekolah serta para guru.
Halikinnor telah menyampaikan kebutuhan tersebut kepada Gubernur Kalteng melalui pesan WhatsApp dan berkoordinasi dengan ajudan gubernur. Ia berharap bantuan berupa meja dan kursi dapat segera dikirim.
"Kita prihatin tapi ini musibah. Kita tidak tahu musibah kapan pun bisa terjadi, baik di rumah kita atau sekolah kita, makanya berhati-hati terhadap api. Dan yang penting bahwa proses belajar mengajar masih bisa berjalan," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/Y)









