PULANG PISAU –

BORNEONEWS, Pulang Pisau - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya berdampak terhadap kualitas udara dan aktivitas masyarakat, tetapi juga memukul penjualan obat tradisional di Desa Sakakajang, Kabupaten Pulang Pisau.

Ria, salah satu pedagang obat tradisional di Desa Sakakajang, kecamatan Jabiren Raya, Pulang Pisau, mengatakan penjualan dagangannya mengalami penurunan cukup signifikan sejak kabut asap akibat karhutla melanda wilayah tersebut.

Menurut Ria, kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar dua hingga tiga bulan terakhir. Aktivitas masyarakat yang berkurang akibat asap membuat pembeli obat tradisional ikut menurun.

"Sudah dua sampai tiga bulan ini sepi. Dampak asap juga," kata Ria. Selasa, 6 Oktober 2026.

Ia mengatakan, sebelum kondisi asap memburuk, pembeli masih cukup ramai mencari berbagai tanaman obat tradisional yang dijualnya. Namun, sejak karhutla terjadi dan asap menyelimuti wilayah tersebut, jumlah pembeli terus berkurang.

"Karena asap, orang-orang juga mengurangi aktivitas di luar rumah. Jadi yang datang membeli juga berkurang," ujarnya.

Padahal, Ria menjual berbagai obat tradisional yang banyak dicari masyarakat, seperti akar bajakah, batang bajakah, pasak bumi dan akar kuning. Ia juga menyediakan madu kelulut serta madu hutan.

Berbagai tanaman obat tersebut sebagian besar diperoleh dari wilayah Pulang Pisau. Untuk akar bajakah, harganya berkisar Rp150 ribu per kilogram, sedangkan jenis tertentu dapat mencapai Rp300 ribu per kilogram, tergantung jenis dan kualitasnya.

Selain dalam bentuk akar, sejumlah produk juga dijual dalam bentuk bubuk yang dapat diseduh menggunakan air panas seperti teh.

Ria menuturkan, sepinya penjualan selama karhutla menjadi beban tersendiri bagi pedagang yang mengandalkan penghasilan dari penjualan obat tradisional.

"Biasanya ada saja yang membeli. Sekarang sudah beberapa bulan ini sepi," katanya.

Ia berharap kondisi karhutla dan kabut asap segera teratasi sehingga aktivitas masyarakat kembali normal. Dengan demikian, pembeli dapat kembali beraktivitas dan penjualan obat tradisional di Desa Sakakajang bisa kembali meningkat.

Karhutla yang selama ini lebih banyak disorot dari sisi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan dan aktivitas masyarakat, pada kenyataannya juga turut memberikan tekanan terhadap ekonomi warga, termasuk pelaku usaha kecil seperti pedagang obat tradisional. (RETHA/y)