JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Meningkatnya penggunaan pinjaman online di tengah tekanan daya beli dinilai menjadi sinyal memburuknya ketahanan keuangan rumah tangga. Literasi finansial masyarakat pun dinilai perlu diperkuat agar pinjol tidak berubah menjadi jebakan utang.

Senior Analyst NEXT Indonesia Center Sandy Pramuji mengatakan penyaluran pinjol yang terus meningkat kini dibarengi kenaikan tingkat gagal bayar atau TWP90.

“Sebab, penyaluran pinjol yang terus melonjak pesat, diiringi peningkatan signifikan pada angka gagal bayar atau rasio tunggakan di atas 90 hari (TWP90),” kata Sandy di Jakarta, Minggu, 18 Oktober 2026.

Berdasarkan riset NEXT Indonesia Center yang mengolah data Otoritas Jasa Keuangan per Agustus 2026, TWP90 pinjol naik menjadi 4,73 persen dari 4,32 persen pada Juli 2026.

Pada saat bersamaan, outstanding pembiayaan pinjol mencapai Rp106,9 triliun atau tumbuh 22,07 persen dibandingkan Agustus tahun sebelumnya.

Menurut Sandy, kondisi tersebut perlu dicermati karena dapat menunjukkan semakin banyak masyarakat menggunakan pinjol untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah tekanan pendapatan dan biaya hidup.

“Meningkatnya angka gagal bayar pinjol hingga mendekati batas aman 5 persen ini bukan sekadar persoalan teknis industri fintech, melainkan sinyal riil bahwa ketahanan keuangan masyarakat bawah hingga menengah sedang berada dalam tekanan luar biasa,” ujarnya.

Ia menilai tekanan tersebut juga terlihat dari menyusutnya simpanan masyarakat.

Data Lembaga Penjamin Simpanan yang dikutip dalam riset tersebut menunjukkan rata-rata saldo rekening di bawah Rp100 juta turun dari Rp4,34 juta pada Juli 2013 menjadi Rp1,67 juta pada Juli 2026.

Tekanan serupa terlihat pada kredit konsumsi perbankan. Pertumbuhannya melambat menjadi 5,38 persen pada Juli 2026, sedangkan rasio kredit bermasalah kredit konsumsi naik menjadi 2,48 persen.

Sandy juga menyoroti melemahnya optimisme konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen Bank Indonesia turun dari 127,0 pada Januari 2026 menjadi 118,1 pada September 2026.

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini juga turun dari 115,1 menjadi 107,5 dalam periode yang sama.

Menurutnya, salah satu tekanan terbesar berasal dari harga kebutuhan pokok. Pada September 2026, inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat 4,37 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi umum 3,28 persen.

“Ketika tabungan menyusut dan harga beras terus meningkat, pinjol menjadi jalan pintas darurat yang sayangnya justru menjerat mereka dalam siklus utang,” kata Sandy.

Karena itu, literasi keuangan dinilai penting agar masyarakat lebih cermat menilai kemampuan membayar sebelum mengambil pinjaman dan tidak menjadikan utang sebagai solusi utama untuk menutup kebutuhan konsumsi sehari-hari.

ANTARA