SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Menjelang akhir 2026, capaian fisik Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih berkisar 20 persen. Rendahnya realisasi tersebut dipengaruhi keterlambatan proses pengadaan barang dan jasa akibat penyesuaian harga menyusul fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM).

"Kalau total untuk PU itu masih rendah memang, masih 20-an persen untuk progres fisik. Karena memang kita baru lelang, kecuali yang tiga kegiatan itu. Kalau yang lain-lain itu baru proses lelang, karena beberapa hal seperti perubahan harga akibat kenaikan harga BBM yang fluktuatif berkali-kali," kata Kepala Dinas SDABMBKPRKP Kotim, Mentana Dhinar Tistama, Selasa, 20 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, perubahan harga BBM yang terjadi berulang kali membuat pihaknya harus melakukan survei ulang harga sebelum melaksanakan pengadaan. Kondisi tersebut berdampak pada mundurnya jadwal lelang sejumlah proyek infrastruktur.

Meski demikian, Mentana menyebut beberapa pekerjaan telah berjalan, di antaranya pembangunan drainase dan jalan di Jalan Tjilik Riwut, drainase Jalan DI Panjaitan, serta Jalan Kandan.

Pihaknya kini memperketat pengawasan terhadap proyek yang sudah berkontrak agar pelaksanaannya sesuai jadwal. Dinas, kontraktor, dan pengawas diminta bekerja ekstra mengingat waktu penyelesaian hingga akhir tahun semakin terbatas.

"Karena waktu kita pendek, jadi rekanan harus bekerja optimal. Memang perlu usaha keras, baik dari dinas, rekanan yang mendapatkan pekerjaan, maupun semua pihak pengawas agar bisa selesai tepat waktu," ujarnya.

Dalam rapat pembahasan APBD 2027 bersama Komisi IV DPRD Kotim, Mentana merinci, pada bidang Bina Marga terdapat 103 paket kegiatan. Sebanyak 32 paket telah berkontrak, sedangkan 45 paket lainnya telah berproses di Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). Sedangkan 26 paket masih dalam proses di LPSE dan belum diumumkan.

Ia mengatakan paket-paket yang telah berkontrak mulai memasuki tahap pelaksanaan, sementara pekerjaan lainnya terus diproses agar dapat segera berjalan.

"Kita masih optimis. Sampai hari ini, berdasarkan yang kami umumkan dan pantau di LPSE, perhitungan kami masih cukup waktu untuk menyelesaikan semuanya," katanya.

Meski demikian, pihaknya tetap membuka kemungkinan mengevaluasi proyek yang dinilai tidak dapat selesai sesuai jadwal. Evaluasi akan dilakukan melalui kajian teknis, termasuk dalam tahapan prakontrak.

"Apabila kita rasa nanti waktu tidak memungkinkan lagi, akan kita batalkan dengan kajian teknis. Tapi sampai sejauh ini kami masih optimis" tegasnya.

Selain itu, Mentana memaparkan perkembangan kegiatan pada bidang Sumber Daya Air (SDA) dan Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim).

Pada bidang SDA, dari 18 kegiatan, sebanyak 11 kegiatan telah berkontrak, satu paket masih dalam proses lelang, dan enam paket lainnya dalam proses pengadaan barang dan jasa.

Sementara itu, pada bidang Perkim, hanya satu kegiatan yang masih dalam proses pengadaan barang dan jasa. Kegiatan lainnya disebut telah berjalan.

Secara keseluruhan, capaian keuangan Dinas SDABMBKPRKP Kotim baru sekitar 21 persen, sedangkan realisasi fisik masih berkisar 20 persen pada Oktober 2026.

Mentana menegaskan, pihaknya terus mengendalikan pelaksanaan pekerjaan melalui pemantauan terhadap rencana dan realisasi setiap proyek. Pengawasan tersebut bertujuan meminimalkan keterlambatan dari target yang telah ditetapkan.

"Sepanjang kita mengikuti rencana dan realisasi itu sesuai yang kita rencanakan, insya Allah kita akan selesai. Itu kita kontrol ketat di situ. Jadi tidak ada deviasi. Kita meminimalkan deviasi negatif. Artinya, yang rencananya misalnya, bulan Oktober harus 50 persen, itu yang harus kita ketatkan," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)