BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Berbagai upaya telah dilakukan dan akan terus dilakukan oleh beberapa negara penghasil minyak sawit di dunia agar berbagai pihak yang selama ini hanya melihat sisi yang salah dari industri sawit, segera paham dan sadar.
Kita tahu bahwa ada jutaan manusia yang menggantungkan hidup mereka pada industri kelapa sawit. Keberadaan mereka tersebar di berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika Latin, Afrika hingga Asia Tenggara. Adapun penghasil minyak sawit terbesar dunia adalah Indonesia dan diikuti oleh Malaysia di posisi kedua. Dua negara ini menyumbang sekitar 80 persen pasokan minyak sawit global.
Selain dari aspek ekonomi, industri sawit juga harus dilihat dari aspek kemanusiaan. Pasalnya, dengan kian gencarnya kampanye hitam terhadap sawit, maka ada ancaman terhadap kehidupan jutaan petani sawit skala kecil di seluruh dunia.
Takhta Suci Vatikan sebagai negara berbentuk eklesiastik atau monarki-sakerdotal yang diperintah oleh Uskup Roma, yakni Paus. Para pejabat tertinggi negara ini semuanya adalah klerus Katolik yang berasal dari berbagai negara. Diharapkan pemerintahan kecil ini dapat menyadarkan para pemimpin Uni Eropa bahwa pelarangan ekspor minyak sawit untuk biodiesel ke Benua Biru dapat berimbas pada meningkatnya kemiskinan. Padahal, kemiskinan menjadi perhatian seluruh dunia untuk diatasi.
Karena itulah, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan ia akan berkunjung ke Vatikan di Roma pada 15 Mei 2018 untuk menjelaskan segala aspek dari industri sawit Indonesia. Langkah Luhut itu sebagai respons atas wacana pelarangan produk kelapa sawit untuk biodiesel di Uni Eropa mulai 2021.
--page
Menurut Luhut, larangan produk kelapa sawit untuk biodiesel di Uni Eropa tak semata berdampak pada persoalan ekonomi. Hal ini juga berkaitan dengan masalah kemiskinan, kemanusiaan, dan keadilan.
Vatikan diharapkan dapat mempengaruhi para pemimpin Uni Eropa betapa pentingnya minyak sawit bagi Indonesia dan beberapa negara lainnya. Perwakilan dari berbagai negara anggota Uni Eropa akan hadir dalam pertemuan di Roma itu.
Selain Indonesia, Malaysia dan Kolombia juga akan menghadiri pertemuan dengan pemerintah Vatikan. Duta Besar Kolombia untuk Indonesia Jose Renato Salazar Acosta mengatakan, Kolombia mengikuti pertemuan tersebut karena menjadi produsen kelapa sawit nomor empat dunia, dengan produksi 1,28 juta ton minyak kelapa sawit per tahun.
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia, Malaysia dan Kolombia akan menjelaskan soal industri sawit yang telah menerapkan praktik berkelanjutan, kata Jose di Jakarta, medio pekan ini. (NEDELYA RAMADHANI/m)








