SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Bupati Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi budaya lokal, khususnya ritual bayar hajat yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak.

"Melestarikan ritual bayar hajat harus terus dilakukan oleh suku Dayak. Balai adat dan komunitas budaya memiliki peran penting untuk menjaga tradisi ini tetap hidup dan diwariskan kepada generasi muda," kata Halikinnor, Rabu, 29 April 2026.

Hal tersebut ia sampaikan usai menghadiri ritual bayar hajat di Desa Tumbang Boloi, Kecamatan Telaga Antang, beberapa waktu lalu.

Ritual bayar hajat sendiri merupakan tradisi sakral yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur, permohonan keberkahan, maupun pelunasan nazar kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam praktiknya, ritual ini menjadi simbol komunikasi antara manusia dengan kekuatan supranatural serta wujud harmonisasi antara manusia, alam, dan leluhur.

Lanjutnya, Kotim memiliki keberagaman budaya yang menjadi kekayaan daerah.

"Dengan luas wilayah sekitar 16.796 kilometer persegi dan jumlah penduduk lebih dari 450 ribu jiwa, Kotim terdiri dari beragam suku dan budaya yang harus kita jaga bersama," tambahnya.

Ia mengatakan, kegiatan tersebut tidak hanya untuk mengikuti prosesi adat, tetapi juga sebagai bagian dari kunjungan kerja ke wilayah Telaga Antang.

Lebih lanjut, ritual bayar hajat juga dinilai memiliki potensi sebagai daya tarik wisata budaya yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan.

"Ritual ini juga sering diperkenalkan sebagai bagian dari kekayaan budaya Kalimantan Tengah," ujarnya.

Dalam filosofi masyarakat Dayak, ritual bayar hajat memiliki makna mendalam, seperti ungkapan maluput hajat bagantung langit batuyang hawun yang menggambarkan harapan untuk keluar dari ketidakpastian menuju kehidupan yang lebih baik.

Selain itu, ritual ini juga menjadi cerminan spiritualitas masyarakat yang menempatkan doa sebagai bagian penting dalam kehidupan.

"Tradisi ini mengajarkan kita pentingnya hidup selaras dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta," tambahnya.

Halikinnor berharap, melalui pelestarian tradisi seperti ritual bayar hajat, nilai-nilai kearifan lokal dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang, sekaligus memperkuat identitas budaya daerah. (DEWI PATMALASARI/H)