SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Aroma gula merah dan santan menguar dari panci-panci besar di Jalan Ir H Juanda Sampit. Tepung beras diolah perlahan hingga menjadi bubur berwarna cokelat dengan rasa manis dan gurih. Di balik semangkuk Bubur Baayak, tersimpan tradisi masyarakat Sampit yang hingga kini masih dipertahankan.

Bubur Baayak merupakan salah satu panganan tradisional yang biasa hadir dalam tradisi masyarakat pada Arba Mustamir, yakni Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah.

Namun, Bubur Baayak bukan sekadar makanan yang disajikan di atas mangkuk. Proses membuatnya menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, bergotong royong, sekaligus berbagi dengan keluarga dan tetangga.

Tokoh masyarakat sekaligus penggiat tradisi Muhammad Yunus mengatakan, Bubur Baayak merupakan salah satu warisan tradisi yang masih dikenang masyarakat. Pembuatan bubur biasanya dilakukan secara bersama-sama. Setelah selesai dimasak dan didoakan, bubur kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar.

"Yang dijaga bukan hanya buburnya, tetapi juga kebiasaan berkumpul dan berbagi dengan sesama," kata Yunus, Rabu, 12 Agustus 2026.

Tradisi Bubur Baayak juga tidak lepas dari doa tolak bala. Masyarakat memanjatkan doa dengan harapan diberikan keselamatan serta dijauhkan dari berbagai marabahaya.

Di sinilah semangkuk bubur memiliki makna yang lebih luas. Makanan menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat untuk mempererat hubungan sekaligus menjaga tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Secara rasa, Bubur Baayak memiliki perpaduan manis dan gurih. Warna cokelatnya berasal dari gula merah yang berpadu dengan santan, menghasilkan cita rasa khas panganan tradisional tersebut.

Bubur Baayak juga kerap dikaitkan dengan tradisi Mandi Safar, yakni kegiatan mandi bersama di sungai yang dilakukan sebagian masyarakat pada Rabu terakhir bulan Safar.

Karena keterkaitannya dengan tradisi tersebut, Bubur Baayak terkadang juga disebut sebagai Bubur Safar.

Bagi Yunus, nilai penting dari Bubur Baayak tidak hanya terletak pada bahan dan cita rasanya. Lebih dari itu, terdapat kebiasaan masyarakat untuk membuat makanan secara bersama-sama, kemudian membagikannya kepada orang lain.

Kebiasaan seperti itu kini semakin jarang ditemui. Berbagai kuliner tradisional masih dikenal, tetapi proses pembuatannya secara bersama-sama seperti dahulu mulai berkurang.

Karena itu, keberadaan Bubur Baayak dinilai penting untuk terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak hanya mengenal makanannya, tetapi juga memahami tradisi yang menyertainya.

Salah satu kegiatan pembuatan Bubur Baayak pernah dilakukan ibu-ibu di Jalan Ir H Juanda Sampit. Dalam kegiatan tersebut, sekitar 1.200 mangkuk Bubur Baayak berhasil dibuat dan kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Jumlah tersebut menunjukkan bahwa tradisi membuat bubur secara bersama-sama masih dapat menjadi ruang berkumpul masyarakat. (DEWI PATMALASAR/j)