BORNEONEWS, Sampit - Sekolah di Sampit masih menunggu arahan resmi terkait penerapan Belajar Dari Rumah (BDR) di tengah kondisi udara yang diselimuti asap karhutla. Kepala SDN 6 Ketapang, Dasuki, mengaku ragu menerapkan BDR apabila kebijakan tersebut tidak diberlakukan secara serentak.
Dasuki mengatakan kondisi cuaca dan kabut asap yang berubah-ubah membuat sekolah perlu menyesuaikan waktu pembelajaran. Jika sebelumnya pukul 07.30 kondisi masih memungkinkan untuk pembelajaran, namun hati ini pada waktu yang sama kabut asap masih terlihat.
"Karena ini kemarin tidak seperti ini, jadi keadaan cuaca ini berubah-ubah. Pada saat kemarin pembelajaran itu dimulai pukul 07.30, ternyata sekarang 07.30 masih kabut," kata Dasuki, Jumat, 18 September 2026.
Pihak sekolah, lanjutnya, akan kembali berkoordinasi dengan guru untuk menentukan apakah waktu masuk siswa perlu diundur hingga pukul 08.00. Sementara untuk menerapkan BDR, sekolah perlu berkoordinasi terlebih dahulu dengan koordinator wilayah (Korwil) maupun Dinas Pendidikan.
"Saya juga menunggu edaran BDR itu karena itu harus resmi. Jadi tidak sembarangan mengingat semuanya itu harus kompak. Karena ini misalnya satu gugus itu harus kompak," ujarnya.
Menurut Dasuki, penerapan BDR yang tidak serentak dalam satu gugus sekolah dapat menimbulkan persoalan. Sebab, ketika satu sekolah menerapkan BDR sementara sekolah lain tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka, diperlukan koordinasi agar kebijakan yang diterapkan tidak berbeda-beda.
"Satu gugus kalau enggak kompak harus koordinasi," jelasnya.
Dasuki mengakui kondisi asap mulai dirasakan mengganggu, termasuk oleh guru. Gangguan terutama dirasakan pada pernapasan sehingga kondisi tersebut menjadi perhatian sekolah dalam menjalankan kegiatan belajar.
"Memang dirasakan bahkan oleh guru sendiri bahwa asap ini sangat mengganggu sekali, terutama pernapasan," katanya.
Meski demikian, sekolah masih menunggu instruksi resmi sebelum mengambil keputusan terkait BDR. Dasuki menilai kebijakan tersebut perlu dilakukan bersama dan tidak bisa diputuskan secara sendiri-sendiri.
Ia mengatakan pihak sekolah juga mulai mengkhawatirkan kondisi siswa apabila kualitas udara semakin memburuk. Terlebih, tidak semua siswa memiliki daya tahan yang sama terhadap paparan asap.
Pada kegiatan pembelajaran hari itu, Dasuki menyebut terdapat seorang siswa yang mengalami kondisi kurang sehat sehingga diminta pulang untuk beristirahat.
Menurutnya, sejauh ini dampak asap terhadap siswa di sekolah belum terlihat secara luas. Namun, kondisi udara yang lebih pekat dibanding sebelumnya membuat pihak sekolah tetap meningkatkan kewaspadaan.
"Kayaknya anak-anak masih belum terdampak, karena baru kali ini yang agak pekat gitu," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









