BORNEONEWS, Sampit – Kota Sampit masih terus diselimuti asap. Menjelang sore, kabut asap terlihat semakin tebal di sejumlah ruas jalan utama hingga membuat warga mengeluhkan mata pedih dan ketidaknyamanan saat beraktivitas di luar rumah.
Pantauan di sejumlah kawasan, asap cukup terasa di Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Pramuka, Jalan Ir. Soekarno hingga Jalan Muhammad Hatta.
Bukan hanya membuat udara terasa pengap, asap juga membawa aroma khas pembakaran. Kondisi tersebut semakin terasa ketika warga melintas menggunakan kendaraan roda dua tanpa perlindungan.
Salah seorang warga Sampit, Yayan, mengatakan asap biasanya mulai terasa mengganggu ketika memasuki sore hari. Bahkan, mata terasa pedih ketika berada cukup lama di luar ruangan.
“Menjelang sore yaitu sekitar pukul 15.00 WIB, asapnya semakin tebal. Mata terasa pedih, apalagi kalau berkendara. Bau asap juga cukup terasa,” ujar Yayan, Minggu, 20 September 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat harus lebih berhati-hati ketika beraktivitas di luar rumah. Terlebih apabila kabut asap terus bertahan dan semakin pekat.
Lebih lanjut ia mengatakan, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya persoalan jarak pandang. Partikel hasil pembakaran yang terbawa udara dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan.
Paparan asap dapat memicu iritasi mata, hidung dan tenggorokan. Keluhan seperti batuk, tenggorokan terasa kering hingga sesak napas juga dapat muncul, terutama ketika konsentrasi asap di udara meningkat.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia dan orang yang memiliki gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.
Masyarakat yang tidak memiliki keperluan mendesak di luar rumah diimbau mengurangi aktivitas ketika asap mulai pekat. Penggunaan masker saat berada di luar ruangan juga dapat membantu mengurangi paparan partikel asap.
Yayan berharap kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Warga berharap hujan segera turun sehingga asap yang menyelimuti Sampit dapat berkurang.
“Mudah-mudahan segera turun hujan dan asapnya berkurang. Kalau setiap sore seperti ini tentu cukup mengganggu, terutama bagi warga yang harus beraktivitas di luar,” katanya.
Di tengah kondisi kemarau dan meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan, masyarakat juga diingatkan untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan.
Asap yang awalnya hanya terasa di sekitar lokasi kebakaran dapat terbawa angin dan menyelimuti kawasan permukiman maupun pusat aktivitas masyarakat, termasuk Kota Sampit. (DEVIANA/H)
Asap Kepung Sampit hingga Bikin Mata Warga Pedih
Bagikan:

SAMPIT –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Jarak Pandang Kurang 3 Meter Picu Sejumlah Kecelakaan di Jalan Gubernur Syarkawi Banjar
Kabut Asap Masih Membayangi Barito Timur, Karhutla Hanguskan 1.205 Hektare Lahan
Bawaslu Seruyan Bagikan Masker kepada Warga
Kabut Asap Ganggu Jarak Pandang di Sungai Mentaya, Motoris Kelotok Diimbau Waspada
Kabut Asap Makin Pekat di Palangka Raya, Ancaman Karhutla Belum Berakhir
Rawing Dorong Operasi Pasar dan Subsidi Angkutan Tekan Inflasi Kalteng
Komentar (0)
Memuat komentar…







