NANGA BULIK –

BORNEONEWS, Nanga Bulik – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyelimuti wilayah Kota Nanga Bulik dan sejumlah desa di sekitarnya sejak Jumat hingga Minggu, 18 september 2026 hingga Rabu, 23 September 2026

Kondisi tersebut membuat jarak pandang di sejumlah ruas jalan menurun. Selain itu, warga juga mulai merasakan dampak asap berupa bau menyengat dan kondisi udara yang kurang nyaman untuk beraktivitas di luar rumah.

Pantauan di kawasan Nanga Bulik, kabut asap terlihat semakin tebal terutama pada pagi hingga siang hari.

Asap yang berasal dari kebakaran lahan di sejumlah wilayah terbawa angin hingga masuk ke kawasan permukiman.

Kondisi ini turut dikeluhkan masyarakat. Salah seorang warga Nanga Bulik, Tata, mengatakan kabut asap cukup mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama bagi keluarga yang memiliki anak kecil.

"Udaranya makin parah dari pagi sampai malam. Dada terasa sesak dan mata perih kalau keluar rumah. Saya sampai membeli air purifier supaya anak saya yang masih balita bisa bernapas lebih nyaman di rumah," ujarnya.

Bupati Lamandau Rizky Aditya Putra mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap. Warga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kondisi asap sedang tebal.

"Kami mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika terpaksa harus keluar, gunakan masker medis atau N95 demi menjaga kesehatan pernapasan," kata Rizky.

Ia juga mengingatkan warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap agar segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

"Kalau kondisi kesehatan mulai memburuk, segera datang ke puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan," ujarnya.

Sementara itu, dalam beberapa hari terakhir, kebakaran lahan terjadi di sejumlah wilayah Kecamatan Bulik dan Sematu Jaya.

Kebakaran melanda lahan semak belukar hingga perkebunan warga dan membutuhkan penanganan karena api sulit dipadamkan.

Asap dari kebakaran tersebut kemudian menyebar ke wilayah Nanga Bulik dan sekitarnya. Penanganan karhutla masih dilakukan untuk mencegah api meluas dan mengurangi dampak asap terhadap masyarakat. (NATALIA KRISTIN/R)