BORNEONEWS, Kuala Pembuang – Setiap kasus kematian ibu dan bayi di Kabupaten Seruyan tidak ingin dibiarkan berlalu hanya sebagai angka statistik.
Penyebab, proses pelayanan hingga kemungkinan celah dalam penanganannya kini dievaluasi untuk mencari langkah perbaikan agar kejadian serupa dapat dicegah.
Upaya tersebut dilakukan melalui Audit Maternal Perinatal Surveilans and Response (AMP SR) yang melibatkan rumah sakit, puskesmas, tenaga kesehatan serta tim ahli, Rabu, 7 Oktober 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Seruyan, dr Riza Syahputra, mengatakan audit bukan bertujuan mencari siapa yang salah ketika terjadi kematian ibu maupun bayi.
“Audit Maternal Perinatal bukan untuk mencari kesalahan, tetapi untuk menggali pembelajaran guna perbaikan tata laksana pelayanan. Memastikan setiap kematian ibu dan bayi dapat dicegah di masa mendatang,” katanya.
Dalam proses tersebut, setiap kasus ditelusuri mulai dari persoalan yang muncul, faktor penyebab hingga pelayanan medis dan kondisi masyarakat yang berkaitan dengan kematian maternal maupun perinatal.
Hasil evaluasi kemudian digunakan untuk merumuskan rekomendasi perbaikan.
Dengan cara itu, pelayanan kesehatan tidak hanya berhenti setelah suatu kasus selesai ditangani.
Temuan dari setiap kejadian menjadi bahan untuk memperbaiki sistem, mulai dari penanganan di tingkat masyarakat, puskesmas hingga rumah sakit.
Riza menilai evaluasi semacam ini penting karena keselamatan ibu dan bayi berkaitan dengan banyak faktor.
Kecepatan memperoleh pertolongan, ketepatan penanganan medis hingga sistem rujukan dapat menentukan keselamatan pasien.
Karena itu, rumah sakit, puskesmas dan tenaga kesehatan perlu melihat kembali setiap kasus secara menyeluruh untuk menemukan bagian yang masih dapat diperbaiki.
Ia berharap rekomendasi dari audit tidak berhenti sebagai catatan rapat, tetapi diterapkan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak di Seruyan.
Target akhirnya adalah menekan risiko kematian ibu dan bayi melalui perbaikan pelayanan yang berkelanjutan. (FAHRUL/j)









