PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Tengah mengingatkan masyarakat untuk menjaga suasana daerah tetap kondusif di tengah kebakaran hutan dan lahan dengan menjadikan falsafah Huma Betang sebagai pegangan dalam kehidupan bersama.

Ketua Umum MUI Kalteng Prof Khairil Anwar mengatakan Huma Betang mengajarkan kehidupan yang rukun, kebersamaan, musyawarah, dan penyelesaian persoalan melalui dialog yang beradab.

“Falsafah Huma Betang mengajarkan kita untuk hidup rukun, menjunjung kebersamaan, mengedepankan musyawarah, hingga penyelesaian masalah dengan dialog yang beradab atau Belom Bahadat,” kata Khairil, Rabu, 21 Oktober 2026.

Ia menegaskan masyarakat tetap memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi, termasuk mahasiswa maupun kelompok masyarakat yang ingin mengkritik penanganan karhutla.

Menurutnya, penyampaian pendapat merupakan hak konstitusional dan bagian dari kontrol sosial.

“Itu adalah bagian dari amar ma'ruf, nahi munkar dan kontrol sosial yang sehat,” ujarnya.

Namun, MUI Kalteng mengingatkan agar penyampaian aspirasi tidak disertai ujaran kebencian, caci maki, maupun tindakan anarkis.

“Mari kita jaga bersama daerah agar tetap kondusif, jaga persatuan dan marwah Bumi Tambun Bungai yang kita cintai ini,” kata Khairil.

Di sisi lain, MUI Kalteng juga meminta pemerintah pusat memberikan perhatian khusus dan berkelanjutan terhadap penanganan karhutla di Kalimantan Tengah.

MUI turut mendorong kepolisian menindak tegas korporasi atau perusahaan perkebunan yang terbukti secara hukum sengaja membakar hutan dan lahan.

“Berikan hukuman yang memberikan efek jera, agar kejadian serupa tidak terulang lagi di tahun-tahun yang akan datang. Jangan sampai masyarakat kecil yang selalu disalahkan, sementara pembakar korporasi lolos dari jerat hukum,” tegasnya.

Khairil menilai pemerintah daerah bersama TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, dan unsur terkait telah melakukan berbagai upaya penanganan di lapangan.

Menurutnya, upaya tersebut juga dibarengi pendekatan keagamaan melalui pelaksanaan Shalat Istisqa.

“Ini adalah ikhtiar paripurna antara doa dan usaha yang harus kita hormati,” ujarnya.

SUMBER: ANTARA