BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Kotawaringin Barat kembali meningkat menjadi 506 kasus pada minggu epidemiologi ke-40 tahun 2026.
Berdasarkan data laporan penyakit dari Dinkes Kobar per 20 Oktober 2026, kasus ISPA meningkat 32,5 persen dibandingkan minggu sebelumnya yang tercatat sebanyak 382 kasus.
Jumlah tersebut sempat mencapai puncak 566 kasus pada minggu epidemiologi ke-31, sebelum kembali berfluktuasi hingga minggu ke-40.
Kepala Dinkes Kobar, Hardino, mengatakan penggunaan masker menjadi salah satu langkah penting untuk melindungi masyarakat dari paparan asap karhutla.
Petugas yang terlibat langsung dalam penanganan karhutla wajib menggunakan masker selama menjalankan tugas.
"Pembagian masker ini wajib kita bagi kepada masyarakat terutama kepada petugas yang menangani karhutla, harus wajib memakai masker," katanya, Selasa, 20 Oktober 2026.
Selain ISPA, kasus diare akut juga menjadi perhatian di tengah kondisi kekurangan air bersih. Kepala Dinkes Kobar, Hardino menyebutkan peningkatan kasus diare berada pada kisaran 10 hingga 15 persen.
"Kemudian, sekarang kelangkaan air bersih, munculnya peningkatan diare sekitar 10 sampai 15 persen, intervensi dari pemerintah daerah sendiri sudah mulai membagikan air bersih kepada masyarakat," jelasnya.
Berdasarkan data Dinkes Kobar, jumlah kasus diare akut pada minggu epidemiologi ke-40 tercatat sebanyak 102 kasus, turun 4,7 persen dibandingkan minggu sebelumnya yang mencapai 107 kasus. Angka tersebut masih perlu dipantau untuk melihat perkembangan kasus pada minggu berikutnya.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan fasilitas layanan bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan terkait gangguan pernapasan akibat kondisi lingkungan.
Diinformasikan terdapat kurang lebih 38 titik rumah oksigen yang tersebar di sejumlah posko di wilayah Kobar, termasuk Teluk Pulai, Sungai Cabang, Sekonyer, Tanjung Harapan, dan Teluk Bogam.
"Kami menyiapkan rumah oksigen setiap posko karhutla maupun di puskesmas pembantu yang terdekat dengan rumah masyarakat itu sendiri," ungkapnya.
Keberadaan rumah oksigen tersebut diharapkan memudahkan masyarakat memperoleh layanan yang dibutuhkan, terutama warga yang berada di sekitar wilayah terdampak karhutla dan jauh dari fasilitas kesehatan utama.
Selain menyiapkan fasilitas layanan kesehatan dan pembagian masker, Dinkes Kobar mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah selama kondisi lingkungan berisiko.
Warga yang harus beraktivitas di luar ruangan diminta menggunakan masker serta menjaga kebersihan dan kesehatan.
"Dimohon kurangi pergerakan di luar rumah, jika keluar rumah selalu memakai masker, kita sama-sama menjaga kesehatan dan kewaspadaan terhadap ISPA dan diare," pungkasnya. (NURITA/R)









