BORNEONEWS, Kuala Kapuas – Perjalanan dari guru honorer hingga meraih predikat Guru Terbaik Provinsi Kalimantan Tengah 2026 dilalui Aristanika, guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMKN 2 Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas.
Ia meraih Juara I kategori Guru SMK sekaligus predikat Guru Terbaik dalam Seleksi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Berprestasi Provinsi Kalimantan Tengah.
Penghargaan tersebut diraih dalam seleksi yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah di Aula Berkah Disdik Kalteng.
Prestasi itu menempatkan Aristanika sebagai salah satu pendidik yang mendapat pengakuan di tingkat provinsi.
Perjalanan karier Aristanika dimulai sebagai guru honorer pada 2014. Tujuh tahun kemudian, pada 2021, ia memperoleh kesempatan menjadi bagian dari guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) angkatan pertama di Kalimantan Tengah.
Bagi Aristanika, penghargaan yang diraih bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia memandangnya sebagai amanah untuk terus meningkatkan kualitas pengabdian dan memberikan manfaat lebih luas bagi dunia pendidikan.
“Alhamdulillah, saya merasa sangat bersyukur dan terharu atas pencapaian Juara 1 Guru Berprestasi Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah kategori Guru SMK sekaligus meraih predikat Guru Terbaik Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2026,” ungkap Aristanika seperti dikutip Borneonews, Selasa, 20 Oktober 2026.
Di luar tugasnya sebagai guru BK, Aristanika juga terlibat dalam pengembangan profesi pendidik. Ia menjabat Ketua PGRI SLCC Kabupaten Kapuas, Wakil Ketua Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) Kabupaten Kapuas, serta menjadi tutor online di Universitas Terbuka.
Berbagai peran tersebut menjadi ruang baginya untuk belajar, berbagi pengalaman, dan berkolaborasi dengan sesama pendidik.
Pengembangan kompetensi menjadi bagian dari upayanya untuk terus mengikuti kebutuhan dunia pendidikan yang berkembang.
Dalam menjalankan profesinya, Aristanika juga mengembangkan layanan BK berbasis teknologi digital. Ia memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), coding, aplikasi interaktif, dan game edukasi untuk menghadirkan pendekatan pendampingan yang lebih kreatif dan relevan bagi peserta didik.
Meski demikian, ia menilai teknologi tetap harus ditempatkan sebagai alat pendukung. Layanan BK, menurutnya, tetap membutuhkan empati, kehadiran, dan hubungan manusiawi antara guru dan murid.
Aristanika berharap prestasi tersebut dapat memotivasi dirinya untuk terus berkembang sekaligus mendorong guru lain agar berani berinovasi.
Baginya, perjalanan dari guru honorer hingga meraih penghargaan tingkat provinsi menjadi pengingat bahwa pendidik memiliki kesempatan untuk terus bertumbuh melalui kemauan belajar dan keberanian mencoba hal baru. (SABRIANOOR/R)









