SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bagi kesehatan masyarakat tidak hanya berupa gangguan pernapasan. Paparan kabut asap juga berisiko memengaruhi kesehatan anak, ibu hamil, kesehatan mental, hingga menimbulkan gangguan pada hidung dan tenggorokan.

"Karhutla merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang memerlukan penanganan secara menyeluruh dan lintas disiplin. Dari perspektif spesialis paru, kesehatan anak, kebidanan dan kandungan, kedokteran jiwa, serta THT, paparan kabut asap dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan dengan tingkat risiko yang berbeda pada setiap kelompok masyarakat," kata Dokter Spesialis Paru RSUD dr Murjani Sampit, dr. Muhamad Taufiqurrahman, Sp.P, Jumat, 23 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, kabut asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, dan berbagai polutan yang berpotensi membahayakan kesehatan. Risiko paparan dapat dialami semua kelompok masyarakat, tetapi anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan penyakit penyerta perlu mendapat perhatian lebih.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kotim merangkum dampak karhutla berdasarkan pandangan para dokter dari sejumlah bidang spesialisasi, sekaligus langkah pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat.

Pada sistem pernapasan, paparan kabut asap dapat memicu iritasi saluran napas, batuk, sakit tenggorokan, hingga sesak napas. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan memperburuk penyakit paru yang sudah diderita, seperti asma.

Anak-anak menjadi salah satu kelompok rentan karena sistem pernapasan dan kekebalan tubuh mereka masih berkembang. Paparan asap dapat menyebabkan ISPA, iritasi mata dan saluran pernapasan, serangan asma, serta memperburuk penyakit paru kronis.

Anak dengan penyakit jantung bawaan maupun gangguan paru tertentu juga berisiko mengalami komplikasi yang lebih serius. Karena itu, orang tua perlu membatasi paparan asap dan memastikan obat rutin bagi anak dengan penyakit kronis tetap tersedia.

Dampak karhutla juga perlu diwaspadai oleh ibu hamil. Paparan asap dapat memicu batuk, iritasi saluran pernapasan, dan sesak napas, terutama pada ibu yang memiliki riwayat asma atau penyakit jantung dan paru.

Polusi udara juga dikaitkan dengan peningkatan risiko berat badan lahir rendah, gangguan pertumbuhan janin, dan kelahiran prematur. Sementara itu, karbon monoksida pada kadar berbahaya dapat mengurangi pasokan oksigen bagi janin.

Polusi udara juga berpotensi memengaruhi proses biologis yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi perempuan. Namun, bukti khusus mengenai dampak asap karhutla terhadap kesuburan masih terbatas.

Ibu hamil disarankan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas berat, perdarahan, kontraksi sebelum waktunya, atau penurunan gerakan janin.

Selain gangguan fisik, situasi karhutla dan kabut asap dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat. Pembatasan aktivitas di luar ruangan, kekhawatiran terhadap kesehatan keluarga, serta terganggunya kegiatan sehari-hari dapat memicu kecemasan, stres, kelelahan, hingga kepanikan.

Untuk menjaga kesehatan mental, masyarakat dianjurkan mempertahankan rutinitas harian sesuai kondisi, mencukupi waktu istirahat, melakukan latihan pernapasan secara perlahan, serta berbagi perasaan dengan keluarga atau orang yang dipercaya.

Dukungan emosional dari keluarga, lingkungan sekitar, dan tenaga kesehatan juga penting untuk membantu masyarakat menghadapi situasi sulit akibat karhutla.

Kabut asap turut berpotensi mengiritasi lapisan mukosa hidung dan memperburuk rinitis alergi maupun rinitis nonalergi atau vasomotor.

Keluhan yang dapat muncul antara lain hidung tersumbat, keluarnya cairan hidung yang jernih, serta bersin berulang. Masyarakat dapat melakukan pencucian hidung menggunakan larutan saline steril atau larutan yang disiapkan dengan air aman.

Apabila keluhan menetap atau semakin berat, masyarakat dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

IDI Kotim mengingatkan masyarakat untuk mengurangi paparan asap selama karhutla masih berlangsung. Langkah pencegahan dapat dilakukan dengan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, memantau indeks kualitas udara, serta menjaga kebersihan dan kualitas udara di dalam rumah.

Penggunaan masker respirator yang sesuai, seperti N95 atau KN95 yang terpasang dengan baik, dapat membantu mengurangi paparan partikel halus. Jika tersedia, penyaring udara dengan filter HEPA juga dapat digunakan di dalam ruangan.

Anak-anak yang mampu menggunakan masker dengan aman dapat memakainya dengan pengawasan orang dewasa. Namun, masker tidak menggantikan upaya mengurangi paparan asap, terutama bagi kelompok rentan.

Orang tua perlu segera membawa anak untuk mendapatkan pertolongan medis jika mengalami kesulitan bernapas, penurunan kesadaran, atau tidak mampu makan dan minum.

Penanganan karhutla, menurut IDI Kotim, perlu disertai upaya perlindungan kesehatan masyarakat secara menyeluruh. Pemantauan kualitas udara, pengurangan paparan asap, perlindungan kelompok rentan, dan kemudahan akses pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dalam menekan dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap kesehatan.

"Melindungi kesehatan masyarakat dari dampak karhutla bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)