PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya semakin memprihatinkan. Kabut asap yang berkepanjangan tidak hanya mengganggu kesehatan masyarakat, tetapi juga berdampak terhadap sektor pertanian, khususnya petani di Kecamatan Rakumpit yang dilaporkan kepada pihak DPRD mengalami gagal panen.

Anggota DPRD Palangka Raya, Hatir Sata Tarigan, mengungkapkan kondisi kabut asap yang berlangsung selama lebih dari tiga bulan telah menghambat tanaman memperoleh sinar matahari secara optimal. Situasi tersebut dinilai menjadi salah satu persoalan serius yang dihadapi petani di wilayah tersebut.

“Sudah lebih dari tiga bulan matahari tidak menyinari tanaman secara optimal akibat kabut asap. Kondisi ini tentu sangat memengaruhi pertumbuhan tanaman dan berdampak terhadap hasil pertanian masyarakat,” kata Hatir, Kamis, 22 Oktober 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah karena masyarakat di Kecamatan Rakumpit masih menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian. Ketika tanaman tidak tumbuh dengan baik atau mengalami gagal panen, petani berpotensi kehilangan sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hatir menilai karhutla tidak bisa hanya dipandang sebagai persoalan kebakaran lahan dan pencemaran udara. Dampaknya jauh lebih luas, mulai dari gangguan kesehatan, kerusakan lingkungan, hingga ancaman terhadap keberlangsungan mata pencaharian masyarakat.

Ia menegaskan, petani menjadi salah satu kelompok masyarakat yang ikut menanggung dampak kabut asap. Selain menghadapi kondisi lingkungan yang tidak mendukung, mereka juga berisiko mengalami kerugian akibat hasil panen yang menurun atau bahkan gagal dipanen.

"Karena itu, penanganan karhutla harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Upaya pencegahan serta pemadaman perlu diperkuat agar kebakaran tidak terus meluas dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat dapat segera dihentikan," tambahnya.

Hatir berharap kondisi udara di Kota Palangka Raya, khususnya Kecamatan Rakumpit, segera membaik sehingga aktivitas masyarakat kembali normal dan petani dapat melanjutkan kegiatan pertanian tanpa terus dibayangi ancaman kabut asap. Ia juga menekankan pentingnya perhatian terhadap dampak ekonomi yang dialami petani akibat karhutla berkepanjangan. (MARINI/H)