BORNEONEWS, Sampit - Intrusi air laut menyebabkan air baku PDAM Tirta Mentaya di Kabupaten Kotawaringin Timur terasa asin dan payau. Dinas Kesehatan Kotim mengingatkan masyarakat, terutama pelaku UMKM, agar memastikan kualitas air sebelum digunakan untuk mengolah makanan dan minuman.
"Potensi penyebaran diare melalui makanan dan minuman yang menggunakan air payau memang ada, tetapi tidak signifikan. Hal itu bergantung pada tingginya kadar salinitas air," kata Kepala Dinkes Kotim Umar Kaderi, Senin, 26 Oktober 2026.
Umar menjelaskan, air yang kualitasnya tidak terjamin berisiko mengganggu kesehatan, terutama jika digunakan untuk mengolah makanan dan minuman. Karena itu, pelaku UMKM perlu memastikan air yang digunakan memenuhi persyaratan kesehatan.
Ia juga mengimbau masyarakat menghindari penggunaan air PDAM yang terdampak intrusi air laut untuk kebutuhan yang memerlukan air berkualitas baik.
"Air PDAM yang air bakunya berasal dari Sungai Mentaya sudah tercampur air laut sehingga terasa asin. Kami mengimbau masyarakat menggunakan sumber air lain yang kualitasnya lebih baik. Sebab, air tersebut bahkan bisa menimbulkan rasa gatal ketika digunakan untuk mandi," ujarnya.
Masyarakat disarankan menggunakan sumber air alternatif, seperti sumur bor dalam atau sumur biasa, dengan memastikan kualitasnya layak. Khusus untuk konsumsi dan pengolahan pangan, air harus memenuhi persyaratan kesehatan agar tidak membahayakan konsumen.
Dinkes Kotim juga telah memeriksa sejumlah depot air minum setelah ditemukan air produksi yang mulai terasa payau. "Pemeriksaan itu sudah kami lakukan," tandasnya.
Dinkes mengingatkan pelaku UMKM agar tidak menggunakan air yang kualitasnya belum terjamin dalam proses produksi makanan dan minuman.
Langkah ini untuk menjaga keamanan pangan dan mengurangi risiko gangguan kesehatan selama intrusi air laut masih memengaruhi air baku Sungai Mentaya. (DEWI PATMALASARI/R)









