BORNEONEWS, Sampit - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), sulit dikendalikan akibat medan yang berat, minimnya sumber air, dan terbatasnya akses menuju lokasi.
Kebakaran diperkirakan telah melahap 2.500 hingga 3.000 hektare lahan, termasuk lebih dari 1.000 hektare kawasan hutan desa di Desa Hanaut.
"Memang kita tahu bahwa kondisi di Kecamatan Pulau Hanaut ini, untuk 14 desa yang terberat adalah akses jalan. Kita kadang-kadang memberikan perhatian ke masyarakat melalui kendaraan bermotor hampir 5 sampai 7 kilometer, lalu jalan kaki 3 kilometer. Itu yang terjadi," kata Camat Pulau Hanaut Fahrujiansyah, Senin, 26 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, kebakaran paling luas terjadi di Desa Hanaut. Api membakar lahan kosong dan sebagian lahan milik masyarakat. Kondisi semakin sulit karena saluran air atau handil di sekitar lokasi mengering, sedangkan sumur bor yang pernah dibangun untuk mendukung konservasi gambut tidak seluruhnya berfungsi.
Dengan keterbatasan tersebut, pemadaman selama ini dilakukan secara manual sesuai kemampuan warga dan petugas di lapangan.
Fahrujiansyah menilai dukungan helikopter untuk pengeboman air atau water bombing sangat diperlukan agar kebakaran di kawasan yang sulit dijangkau dapat ditangani lebih efektif.
"Makanya harapan kami kepada BPBD Kotim, salah satu yang paling diupayakan adalah dengan water bombing helikopter. Memang kalau tidak ada itu mungkin tidak akan tertanggulangi," ujarnya.
Fahrujiansyah menyebut titik panas masih mengalami kenaikan dan penurunan. Selain Desa Hanaut, kebakaran juga menjadi perhatian di Bapinang Hilir dan kawasan Serambut.
Sementara itu, kondisi di Desa Satiruk dilaporkan sudah terkendali, meski bara api di dalam lapisan gambut masih berpotensi bertahan apabila tidak dipadamkan hingga ke bagian bawah.
Kawasan hutan desa di Desa Hanaut menjadi salah satu lokasi dengan dampak kebakaran terbesar. Dari total luas kawasan sekitar 3.000 hektare, diperkirakan sekitar 1.000 hektare telah terbakar.
Pihaknya bersama pihak Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) telah mengecek lokasi dan menghadapi kendala medan yang berat, semak belukar, serta kondisi lahan yang kering tanpa sumber air memadai.
Ia menjelaskan, kebakaran di kawasan hutan desa tersebut merembet dari titik api sebelumnya di wilayah Desa Rawasari dan Makarti Jaya. Meski api di kawasan hutan desa dilaporkan telah padam, kebakaran kemudian berdampak ke kebun milik masyarakat di sekitarnya.
"Hutan desa itu memang hutan yang dilindungi. Itu merembet dari wilayah kemarin yang terbakar pertama kan Rawasari sama Makarti jaya. Kondisi kebakaran di hutan desa itu saat ini sudah padam, tapi api turun ke kebun masyarakat," imbuhnya.
Kini, upaya difokuskan untuk mencegah api dari Desa Hanaut meluas ke Bapinang Hulu melalui kawasan Sungai Kenanga.
Jika kebakaran mencapai wilayah tersebut, semakin banyak kebun warga dikhawatirkan terdampak. Untuk menghambat pergerakan api, masyarakat membuat sekat bakar tiga jalur dengan lebar masing-masing sekitar 4 hingga 8 meter.
Pembuatan sekat bakar dilakukan karena keterbatasan air menyulitkan pemadaman langsung. Jalur tersebut diharapkan dapat membatasi ruang gerak api agar tidak merembet ke lahan lain, terutama kebun masyarakat yang berada di sekitar kawasan terbakar.
Fahrujiansyah mengatakan, pihak kecamatan telah beberapa kali menyurati BPBD Kotim untuk meminta dukungan helikopter water bombing.
Dari sekitar lima kali pengajuan, baru dua kali yang dapat terakomodasi, sementara penerbangan lainnya terkendala jarak pandang. Ia berharap dukungan pemadaman udara dapat dioptimalkan agar kebakaran di kawasan gambut yang sulit dijangkau tidak terus meluas. (DEWI PATMALASARI/R)









