BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Antusiasme masyarakat terhadap pelaksanaan Pasar Inflasi di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) terus meningkat. Memasuki putaran keenam, kegiatan yang digelar Pemerintah Kabupaten Kobar melalui Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disperindagkop UKM) di halaman parkir depan Pasar Indra Sari, Pangkalan Bun, mencatat lonjakan jumlah pengunjung dibandingkan pelaksanaan pada pekan-pekan sebelumnya, Rabu, 29 Juli 2026.
Sekretaris Disperindagkop UKM Kobar, Muhammad Suhendra, mengatakan Pasar Inflasi telah rutin dilaksanakan sebanyak enam kali setiap hari Rabu pukul 08.00 hingga 11.00 WIB sebagai upaya menjaga stabilitas harga sekaligus membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
"Luar biasa, hari ini pengunjungnya meningkat drastis dibandingkan minggu-minggu yang lalu. Ini menunjukkan masyarakat sangat terbantu dengan adanya Pasar Inflasi," ujarnya.
Menurut Suhendra, Pasar Inflasi merupakan inovasi Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat melalui Disperindagkop UKM yang melibatkan berbagai instansi dan BUMN.
Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, Perum Bulog Cabang Kotawaringin Barat, serta Pertamina Patra Niaga Kumai/Pangkalan Bun untuk menyediakan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting (Bapokting) berkualitas dengan harga di bawah harga pasar.
Menariknya, pelaksanaan Pasar Inflasi tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kobar. Seluruh kegiatan terlaksana melalui sinergi antarinstansi sehingga masyarakat tetap dapat menikmati berbagai komoditas dengan harga yang lebih terjangkau.
Dalam kegiatan tersebut tersedia berbagai kebutuhan pokok, di antaranya beras premium Rp77 ribu per 5 kilogram, beras SPHP Rp60 ribu per 5 kilogram, Minyakita Rp15.500 per liter, gula pasir Rp18.500 per kilogram, telur ayam ras Rp53 ribu per tray, bawang merah dan bawang putih masing-masing Rp40 ribu per kilogram, serta daun bawang Rp90 ribu per kilogram. Selain itu juga dijual LPG 3 kilogram, 5,5 kilogram, dan 12 kilogram sesuai ketentuan yang berlaku.
Muhammad Suhendra menjelaskan, Pasar Inflasi dihadirkan sebagai langkah nyata pemerintah daerah untuk membantu masyarakat menghadapi potensi kenaikan harga barang akibat kondisi ekonomi global yang masih bergejolak.
"Harapannya masyarakat dapat terbantu memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang relatif murah di tengah potensi meningkatnya inflasi. Salah satu penyebabnya adalah situasi geopolitik dunia yang tidak menentu, termasuk konflik di Timur Tengah yang memengaruhi harga minyak dunia dan berpotensi mendorong kenaikan harga barang kebutuhan pokok," jelasnya.
Ia berharap, kolaborasi lintas sektor tersebut dapat terus berlanjut sehingga Pasar Inflasi menjadi salah satu instrumen efektif pemerintah daerah dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengendalikan laju inflasi di Kabupaten Kobar.
Sementara itu, salah seorang warga Mendawai, Rosiana, mengaku sangat terbantu dengan adanya Pasar Inflasi karena harga kebutuhan pokok yang ditawarkan lebih terjangkau dibandingkan di pasaran.
"Pasar inflasi ini sangat membantu kami yang memang membutuhkan bahan-bahan pokok dengan harga yang masih bisa dijangkau. Semoga kegiatan seperti ini terus diadakan," ungkap Rosiana.
Begitu pula yang disampaikan warga lainnya, Iskandar. Menurutnya, keberadaan Pasar Inflasi sangat meringankan beban masyarakat di tengah kondisi harga kebutuhan pokok yang meningkat.
"Kalau bisa kegiatan ini dilaksanakan sebulan sekali, bahkan lebih baik lagi setiap minggu. Dengan begitu masyarakat akan lebih mudah mendapatkan bahan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih murah," katanya.
Melalui kerja sama lintas sektor ini, Pemerintah Kabupaten Kobar berharap Pasar Inflasi dapat terus menjadi salah satu instrumen efektif dalam menjaga stabilitas harga, mengendalikan inflasi daerah, sekaligus membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau. (NURITA/H)









