BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Pemadaman listrik bergilir yang kembali terjadi di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menuai keluhan masyarakat. Kondisi ini menambah beban warga yang selama berbulan-bulan harus bertahan di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ketua Komisi C DPRD Kobar, H. Arief Asyrofi, kecewa dan menyayangkan kembali terjadinya pemadaman listrik tersebut. Menurutnya, kondisi ini semakin mengganggu aktivitas masyarakat, mulai dari kegiatan ekonomi hingga transportasi.
“Kita sudah capek dan sangat menyakitkan dengan kondisi alam kita yang berbulan-bulan sudah dikepung asap ini. Kasihan masyarakat, ini betul-betul sangat mengganggu ekonomi dan kegiatan masyarakat,” ujar Arief, Senin, 19 Oktober 2026.
Ia menilai, pemadaman bergilir menambah ketidaknyamanan masyarakat yang saat ini sudah menghadapi dampak kabut asap. Gangguan listrik juga berpotensi menghambat aktivitas warga dalam bekerja, berusaha, dan menjalankan kegiatan sehari-hari.
“Saya selaku anggota DPRD Kobar sangat menyayangkan perkembangan kualitas pelayanan dari PLN ini,” tegasnya.
Arief memahami bahwa pasokan listrik di Kobar terhubung dengan sistem interkoneksi jaringan yang mencakup sejumlah wilayah, mulai dari Kalimantan Barat hingga Kalimantan Utara. Dengan sistem tersebut, gangguan pasokan di wilayah lain dapat berdampak terhadap daerah setempat.
Namun, ia mempertanyakan kembali terjadinya pemadaman pada pertengahan Oktober 2026. Sebab, berdasarkan paparan PLN dalam pertemuan sebelumnya, termasuk rapat dengar pendapat (RDP) yang digelar Komisi C DPRD Kobar bersama PLN UP3 Pangkalan Bun, permasalahan pasokan listrik ditargetkan selesai pada September.
“Dulu mereka menyebutkan bahwa pada bulan September itu semuanya clear. Penyedia daya yang sedang mengalami gangguan, dari tiga unit yang salah satunya ada di wilayah Barito Utara, diperkirakan Agustus sudah selesai dan September semuanya sudah clear. Nah, ini kenapa di pertengahan Oktober terjadi seperti ini?” katanya.
Arief melanjutkan, masyarakat berharap pemadaman bergilir tersebut hanya berlangsung sementara dan tidak berlarut-larut. Terlebih, dampak kabut asap yang terjadi selama berbulan-bulan telah mengganggu berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Ia secara khusus menyoroti sektor transportasi, terutama penerbangan, yang terdampak kondisi kabut asap. Menurutnya, penerbangan kini menjadi kebutuhan masyarakat luas sehingga gangguan yang terjadi turut memengaruhi mobilitas warga.
“Dengan pemadaman bergilir, ini menambah ketidaknyamanan masyarakat dalam bermasyarakat, berusaha, dan beraktivitas. Akhirnya, gangguan ini saling melengkapi ketidaknyamanan,” ungkapnya.
Arief berharap, PLN segera mengatasi permasalahan pasokan listrik agar pemadaman bergilir di Kobar dapat dihentikan. Ia meminta pelayanan kelistrikan kembali normal sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi tanpa gangguan.
“Mudah-mudahan PLN segera bisa mengakhiri pemadaman bergilir ini, dan penyediaan listrik buat masyarakat bisa tersalurkan seperti sedia kala, tidak ada pemadaman lagi, serta arus listrik lancar sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat luas,” pungkasnya. (DANANG/y)









