BORNEONEWS, Palangka Raya – Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Upaya ini dilakukan melalui empat program pelayanan yang mengutamakan respons cepat, kemudahan akses, dan perlindungan kelompok rentan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, Riduan, menjelaskan bahwa kondisi karhutla menuntut penanganan kesehatan yang cepat dan menjangkau masyarakat secara langsung. Hal ini penting untuk mencegah gangguan kesehatan akibat paparan asap berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
"Empat layanan yang disiapkan meliputi pelayanan di puskesmas dan rumah sakit, mobil atau bus oksigen gratis, Rumah Oksigen, serta kolaborasi dengan relawan untuk edukasi dan deteksi dini gangguan kesehatan," kata Riduan, saat musyawarah keterbukaan pengunaan Banpres untuk Kota Palangka Raya Minggu, 25 Oktober 2026.
Pelayanan di puskesmas dan rumah sakit pemerintah difokuskan pada pemeriksaan dan pengobatan keluhan yang berkaitan dengan dampak karhutla, seperti batuk, sesak napas, dan mata perih.
Selama masa tanggap darurat, warga dapat mengakses layanan tersebut secara gratis sesuai ketentuan pelayanan yang berlaku.
Dalam penanganannya, kata Riduan tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan awal, memberikan pengobatan sesuai kondisi pasien, serta mengevaluasi perkembangan kesehatan. Apabila diperlukan penanganan lebih lanjut, pasien akan dirujuk ke rumah sakit.
"Selain pelayanan di fasilitas kesehatan, Dinas Kesehatan juga mengoperasikan empat unit bus atau mobil oksigen gratis untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat yang membutuhkan. Layanan bergerak ini diharapkan membantu warga memperoleh dukungan kesehatan tanpa harus menempuh perjalanan jauh," jelasnya.
Program berikutnya adalah Rumah Oksigen yang menjadi titik dukungan bagi warga terdampak. Berdasarkan materi program yang disampaikan, terdapat 57 Rumah Oksigen di Kota Palangka Raya, baik yang dikelola pemerintah maupun lembaga dan organisasi swasta. Layanan ini mencakup pemeriksaan awal, pemberian oksigen sesuai kebutuhan, pembagian masker dan vitamin, serta rujukan apabila diperlukan.
Dinas Kesehatan juga memperkuat kolaborasi dengan relawan untuk memberikan edukasi kesehatan, menyebarkan informasi pencegahan dampak kabut asap, serta menjangkau warga secara langsung.
Relawan dan tenaga kesehatan diharapkan dapat membantu mengidentifikasi masyarakat yang mengalami keluhan pernapasan dan memerlukan penanganan.
Perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan, seperti lansia, balita, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki risiko gangguan pernapasan. Deteksi dini dan kemudahan akses pelayanan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko dampak kesehatan akibat paparan asap.
Melalui empat program tersebut, Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya berupaya memastikan pelayanan kesehatan tetap mudah dijangkau selama masa tanggap darurat karhutla.
Koordinasi antara fasilitas kesehatan, pemerintah, relawan, dan masyarakat juga diperlukan agar penanganan berjalan terpadu.
Masyarakat yang mengalami sesak napas berat atau kesulitan bernapas perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Sementara itu, warga diimbau mengurangi paparan asap, menggunakan masker yang sesuai, dan memanfaatkan fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan.
"Upaya ini diharapkan dapat membantu melindungi kesehatan dan keselamatan masyarakat Palangka Raya selama dampak karhutla masih berlangsung," pungkasnya. (MARINI/R)









