BORNEONEWS, Sampit - DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) meminta kerusakan Jalan M Noor di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan segera ditangani. Ruas jalan tersebut dinilai menjadi akses penting bagi aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan masyarakat di wilayah Samuda dan sekitarnya.
"Saya sangat mendukung dan mengapresiasi langkah tegas Camat Mentaya Hilir Selatan. Apa yang disampaikan beliau itu bukan keluhan baru, itu adalah jeritan lama masyarakat Dapil III yang saya wakili. Jalan M. Noor itu urat nadi ekonomi warga Samuda dan sekitarnya," kata Anggota DPRD Kotim Daerah Pemilihan (Dapil) III Eddy Mashamy, Rabu, 7 Oktober 2026.
Hal tersebut ia sampaikan menyusul pernyataan Camat Mentaya Hilir Selatan Wahyudah yang mendesak Dinas PU menurunkan alat berat untuk perbaikan Jalan M Noor.
Eddy mengatakan, pemerintah daerah tidak seharusnya menunggu kondisi tersebut semakin parah. Ia meminta Dinas PU segera melakukan tindakan di lapangan, terutama pada bagian jalan yang mengalami kerusakan dan sulit dilalui ketika hujan.
"Saya mendesak Dinas PU Kotim untuk segera responsif. Jangan menunggu viral, jangan menunggu ada korban. Turunkan alat berat sekarang juga. Lakukan perataan, pengerasan dan perbaikan drainase. Status jalan ini harus menjadi prioritas, bukan proyek yang ditunda-tunda setiap tahun anggaran," ujarnya.
Ia juga meminta Pemkab Kotim terbuka mengenai rencana penanganan ruas jalan tersebut. Informasi yang perlu disampaikan kepada masyarakat antara lain jadwal pemeliharaan rutin serta besaran anggaran yang dialokasikan untuk Jalan M Noor pada tahun ini.
Eddy mengatakan, persoalan Jalan M Noor bukan hal baru. Sebagai wakil masyarakat Dapil III yang mencakup Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Pulau Hanaut dan Teluk Sampit, ia mengaku persoalan tersebut hampir selalu muncul dalam setiap kegiatan reses.
Ia menjelaskan, kerusakan jalan semakin dirasakan ketika hujan turun. Lubang yang dipenuhi air dan kondisi jalan yang becek menyulitkan mobilitas warga, termasuk pedagang, petani, dan nelayan yang hendak menuju Pasar Samuda.
Kondisi tersebut juga berdampak pada aktivitas anak sekolah. Jalan licin dan berlubang berpotensi membuat pelajar terlambat maupun terjatuh saat melintas.
Di sisi lain, akses kendaraan untuk pelayanan kesehatan turut menjadi perhatian. Kondisi jalan yang tidak baik dapat menghambat perjalanan ambulans maupun masyarakat yang membutuhkan penanganan medis darurat.
Warga juga mengeluhkan kendaraan lebih cepat mengalami kerusakan, ban pecah hingga meningkatnya risiko kecelakaan. Kondisi tersebut semakin berisiko pada malam hari karena penerangan dan rambu lalu lintas dinilai masih minim.
Masyarakat bahkan telah beberapa kali melakukan penanganan secara swadaya dengan menimbun bagian jalan yang berlubang. Namun, langkah tersebut hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan persoalan secara permanen.
Karena itu, Eddy menyiapkan sejumlah langkah yang akan dikawal melalui DPRD Kotim. Untuk penanganan darurat, ia meminta alat berat segera dikerahkan dalam waktu dekat.
"Dalam minggu ini juga Dinas PU harus turunkan minimal 1 unit grader dan 1 unit excavator untuk perataan dan pembuangan material yang menggenang. Ini tindakan darurat untuk memastikan jalan bisa dilalui," katanya.
Untuk jangka menengah, dirinya mendorong agar peningkatan Jalan M Noor masuk dalam pembahasan APBD Murni 2027. Ia mengusulkan penanganan dengan konstruksi yang lebih permanen, seperti rigid pavement atau setidaknya aspal hotmix.
Menurutnya, perbaikan tidak cukup hanya mengandalkan penimbunan material sirtu yang dinilai mudah kembali rusak ketika menghadapi hujan dan pasang.
Sementara untuk jangka panjang, ia mendorong sistem pemeliharaan yang melibatkan pemerintah kecamatan. Mentaya Hilir Selatan telah memiliki bantuan alat berat dari pemerintah kabupaten sehingga aset tersebut dinilai dapat disinergikan dengan Dinas PU untuk menangani kerusakan secara lebih cepat.
"Jangan sampai alat berat ada di kecamatan tapi solar tidak ada, operator tidak ada. Saya minta Pemkab Kotim juga memastikan dukungan operasionalnya. Infrastruktur di selatan adalah wajah Kotim, kalau jalannya rusak, ekonomi Kotim juga ikut rusak," pungkas politisi Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut. (DEWI PATMALASARI/y)









