BORNEONEWS, Jakarta – Penguatan rantai pasok pangan berbasis komunitas dinilai dapat membantu menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga pangan, sekaligus memperluas akses pasar bagi petani, peternak, dan pelaku usaha lokal.
Peneliti Center of Economic and Law Studies atau Celios, Galau D Muhammad, mengatakan kebutuhan pangan dalam jumlah besar perlu diimbangi jaringan pemasok yang lebih terdesentralisasi.
“Ada banyak pedagang UMKM, peternak yang seharusnya diintegrasikan secara proporsional dalam skala yang mikro,” kata Galau, Jumat, 16 Oktober 2026.
Menurutnya, pelibatan produsen lokal perlu disesuaikan dengan kemampuan produksi masing-masing agar mereka tetap bisa masuk dalam rantai pasok tanpa dibebani kebutuhan dalam jumlah terlalu besar.
Ia mencontohkan kebutuhan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis yang terus meningkat seiring bertambahnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.
“UMKM, peternak kecil mana yang bisa menyuplai untuk 1.000 sampai dengan 1.500 porsi per SPPG?” ujarnya.
Karena itu, pengadaan dinilai perlu melibatkan banyak pemasok lokal dalam porsi yang lebih kecil dan terdistribusi.
Galau juga mengingatkan bahwa peningkatan permintaan dalam skala besar berpotensi memberi tekanan terhadap harga pangan apabila tidak diikuti peningkatan produksi dan distribusi.
Kajian Celios pada Mei 2026 mencatat penambahan 10 SPPG memiliki hubungan statistik dengan kenaikan rata-rata harga pangan sekitar 0,08 persen di tingkat kabupaten/kota.
Sementara untuk komoditas yang banyak digunakan dalam program MBG, kenaikannya tercatat sekitar 0,12 hingga 0,13 persen.
Komoditas yang diteliti meliputi beras, telur, daging ayam, ikan, minyak goreng, gula, bawang, dan cabai.
Menurut Galau, kondisi itu menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan pengadaan skala besar dan pasokan untuk masyarakat umum.
“Yang dapat dilakukan, kita dapat melibatkan komunitas, komite sekolah. Ada banyak juga pedagang UMKM di sekitar sekolah, peternak di sekitar daerah penerima manfaat,” katanya.
Tekanan harga pangan juga terlihat dari inflasi kelompok volatile food yang menurut Bank Indonesia mencapai 5,03 persen secara tahunan pada September 2026, naik dari 4,06 persen pada Agustus.
Tekanan tersebut terutama berasal dari daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi.
Galau menilai penguatan rantai pasok juga harus memperhatikan daerah dengan kerentanan pangan tinggi, termasuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.
Kemampuan produksi, infrastruktur distribusi, dan kepastian pasar menjadi faktor penting agar pelaku usaha lokal bisa memperoleh manfaat secara berkelanjutan.
ANTARA









